Blitar, serayunusantara.com – Bagi masyarakat Jawa Timur, rawon bukan sekadar hidangan, melainkan bagian dari tradisi yang sudah melekat sejak lama. “Kalau sudah lihat rawon, rasanya suasana hajatan langsung hidup,” ujar Bu Marni, warga yang sering terlibat dalam dapur bersama saat acara desa.
Kehadiran rawon seakan menjadi tanda bahwa perayaan dimulai dengan penuh kehangatan.
Kuah hitam pekat dari kluwek selalu mengundang rasa penasaran para tamu yang datang. Menurut Pak Heru, seorang tetangga yang sering menjadi tamu undangan, aroma khas rawon memberi rasa nyaman seolah kembali ke masa kecil.
Banyak masyarakat merasa bahwa seporsi rawon di hajatan membawa kenangan tentang kebersamaan yang sulit tergantikan.
Di balik rasanya yang gurih, proses memasak rawon untuk hajatan juga menyimpan cerita kebersamaan. Para ibu biasanya berkumpul di dapur besar, saling berbagi tugas sambil bercanda riang.
“Kami paling senang saat bagian mengaduk kuah besar, karena aromanya langsung bikin lapar,” tutur Sulastri sambil tertawa kecil.
Baca Juga: Rawon Pom Lodho Pedas Ayam Kampung, Destinasi Kuliner Khas di Barat Alun-Alun Kota Blitar
Penyajiannya pun membuat tamu merasa dekat satu sama lain. Ketika rawon dihidangkan dalam jumlah besar, setiap orang saling menawarkan pelengkap seperti tauge, sambal, atau kerupuk udang. Momen kecil ini menciptakan suasana akrab yang menjadi ciri khas hajatan di banyak desa.
Tidak mengherankan jika rawon selalu menjadi menu yang ditanyakan pertama oleh para tamu. Bagi masyarakat, hidangan ini bukan hanya soal kenikmatan rasa, tetapi juga bentuk penghormatan kepada siapa pun yang datang. (He/ha)







