Blitar, serayunusantara.com — Di tengah gempuran tren media sosial dan gim daring, tradisi keagamaan klasik rupanya masih memiliki tempat istimewa di hati generasi muda.
Fenomena ini terlihat dari masih eksisnya kegiatan rutinan ngaji kitab kuning yang diikuti oleh puluhan remaja di berbagai musala dan pondok pesantren di wilayah Blitar.
Kegiatan yang biasanya digelar setelah salat Magrib atau pada akhir pekan ini tidak hanya sekadar membaca teks, tetapi juga mengkaji makna mendalam tentang akhlak, tata cara ibadah, hingga kehidupan sosial.
Keikutsertaan remaja dalam rutinan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai tradisional tetap dianggap relevan sebagai pegangan hidup di tengah arus modernisasi.
Baca Juga: Gud Tymbro, Kreator Muda Blitar yang Bikin Forum Ngaji Lebih Cair
Seorang peserta rutinan asal Kelurahan Bendogerit, Ahmad Zaki (21), mengaku merasa lebih tenang dengan mengikuti ngaji kitab.
Ia mengatakan, pada awalnya dirinya hanya ikut-ikutan teman, tapi lama-lama merasa butuh.
“Selain menambah ilmu agama, ngaji kitab seperti ini bikin hati lebih adem daripada terus-terusan main HP. Kita jadi tahu tata krama dan belajar menghargai proses belajar yang sabar,” ungkap Zaki.
Eksistensi ngaji kitab di kalangan remaja ini menjadi angin segar bagi upaya pelestarian budaya literasi klasik sekaligus pembentukan karakter generasi muda yang berakhlak mulia di tengah tantangan zaman. (Fis/Serayu)







