Jakarta, serayunusantara.com — Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia menggelar simulasi pelaksanaan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) menjelang berakhirnya Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Angkatan Pertama Tahun 2026 di Asrama Pondok Haji Jakarta.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memantapkan kesiapan petugas sebelum terjun langsung melayani jemaah haji di Tanah Suci.
Simulasi Armuzna dirancang menyerupai kondisi riil di lapangan dengan menghadirkan berbagai skenario yang kerap terjadi saat puncak ibadah haji. Para peserta diklat tidak hanya berperan sebagai petugas, tetapi juga mensimulasikan kondisi jemaah dengan beragam latar belakang usia, kondisi kesehatan, serta persoalan teknis dan non-teknis.
Dalam simulasi tersebut, peserta dilatih menghadapi berbagai tantangan, seperti kepadatan jemaah, keterlambatan transportasi, kelelahan fisik, jemaah terpisah dari rombongan, hingga penanganan jemaah lansia dan keadaan darurat kesehatan. Setiap skenario diuji dengan penanganan yang cepat, terukur, serta berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan jemaah.
Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana penguatan koordinasi antarfungsi petugas di sektor Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Peserta dilatih mengambil keputusan di bawah tekanan, membangun komunikasi efektif, serta mengedepankan nilai pelayanan, disiplin, dan tanggung jawab sebagai pelayan negara.
Salah satu peserta diklat, Faisal, mengaku antusias mengikuti simulasi Armuzna tersebut. Menurutnya, kegiatan ini sangat membantu membangun kesiapan mental dan teknis petugas haji.
“Saya sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Saat ini saya ditugaskan di sektor Muzdalifah, dan simulasi ini benar-benar memberi gambaran nyata kondisi di lapangan. Saya berharap petugas haji tahun 2026 bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” ujarnya.
Faisal juga menilai pelaksanaan haji 2026 membawa semangat baru seiring hadirnya Kementerian Haji dan Umrah sebagai institusi yang secara khusus menangani penyelenggaraan ibadah haji.
“Ini kementerian baru dengan semangat baru. Harapannya, pelayanan haji Indonesia semakin profesional, tertib, dan bermartabat,” tambahnya.
Pelaksanaan simulasi Armuzna ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membenahi tata kelola haji secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi administratif, tetapi juga peningkatan kualitas pelayanan di lapangan yang selama ini menjadi perhatian publik.
Melalui diklat dan simulasi yang komprehensif, Kementerian Haji dan Umrah berharap petugas haji Indonesia mampu tampil profesional serta menjadi garda terdepan dalam menjaga nama baik bangsa di mata internasional.
Baca Juga: Infaq Istighosah Kubro NU Se-Blitar Raya Terkumpul Rp43 Juta untuk Aksi Kemanusiaan
Dengan berakhirnya Diklat PPIH Angkatan Pertama Tahun 2026, para peserta diharapkan tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki jiwa pengabdian, nasionalisme, dan komitmen kuat untuk memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia. Penyelenggaraan haji pun ditegaskan sebagai amanah besar negara dalam melindungi, melayani, dan memuliakan tamu-tamu Allah dari Tanah Air.(FAK)







