Blitar, serayunusantara.com — Suasana Kedai Kopi Kalpas malam ini tampak berbeda dari biasanya. Selain riuh rendah diskusi “Kenang-Kenanglah Pram”, sudut-sudut kedai berubah menjadi perpustakaan mini dan toko buku dadakan.
Kehadiran Lapak Baca Gratis dari Komunitas Lapak Baca Ceria dan deretan buku berkualitas dari Tualang Buku menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung yang hadir, Kamis (12/02/2026).
Lapak Baca Ceria sengaja menghadirkan puluhan koleksi buku yang bisa dinikmati pengunjung secara cuma-cuma di lokasi.
Mulai dari karya sastra, sejarah, hingga filsafat sengaja dihamparkan untuk memancing minat baca warga yang sedang nongkrong.
Sementara itu, Tualang Buku hadir melengkapi ekosistem tersebut dengan menyediakan lapak jual buku, memudahkan para kolektor untuk memiliki karya-karya Pramoedya Ananta Toer maupun penulis hebat lainnya secara langsung.
Rahman (29), yang terlihat asyik membolak-balik halaman buku di lapak tersebut, mengaku terkesan dengan konsep “jemput bola” ini.
“Biasanya kalau di kafe orang cuma main HP, tapi malam ini beda, tangan mereka pegang buku. Tips dari saya untuk teman-teman, manfaatkan momen lapak gratis ini untuk ‘icip-icip’ genre bacaan baru,” ungkapnya.
Keberadaan lapak baca dan jual buku ini menjadi bukti bahwa komunitas literasi di Blitar tidak hanya pandai berwacana, tetapi juga aktif menyediakan akses fisik terhadap ilmu pengetahuan.
Sinergi antara Lapak Baca Ceria dan Tualang Buku menciptakan suasana kafe yang lebih bernyawa, di mana aktivitas minum kopi berpadu selaras dengan tradisi intelektual.
Hingga acara berakhir, lapak-lapak buku ini terus dikerumuni pengunjung yang penasaran.
Gerakan literasi berbasis komunitas seperti ini diharapkan terus konsisten hadir di berbagai ruang publik di Blitar, sehingga buku tidak lagi dianggap sebagai benda yang berat, melainkan teman ngobrol yang asyik di meja kopi. (Fis/Serayu)



















