Mojokerto, serayunusantara.com – Upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan terus dilakukan melalui pembangunan infrastruktur pertanian.
Salah satunya dengan menghadirkan sumur bor dalam berbasis Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, yang mampu menekan biaya operasional petani hingga 80 persen sekaligus menjamin ketersediaan air saat musim tanam.
Program ini merupakan hasil sinergi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum dalam memperkuat infrastruktur pengairan di sektor pertanian. Langkah tersebut dinilai strategis untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang berdampak pada ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa penguatan sistem irigasi menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Kehadiran sumur bor dalam dinilai mampu menjadi solusi konkret bagi petani yang selama ini menghadapi keterbatasan sumber air.
Sekretaris Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Dhani Gartina, menjelaskan bahwa fasilitas JIAT memberikan kepastian pasokan air untuk mendukung musim tanam.
“Kalau kelompok tani (poktan) dan gapoktan di sini bergerak, tahun depan outlet bisa ditambah. Artinya, kepastian air untuk satu musim tanam sudah bisa dijamin. Pemerintah sudah membangun sumber air ini secara gratis, sekarang tinggal petaninya bergerak dan memanfaatkan, serta merawatnya,” ujar Dhani dalam siaran pers yang diterima pada Senin (6/4/2026).
Ia juga mengingatkan pentingnya peran kelembagaan petani dalam mengelola dan merawat infrastruktur tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Yang paling penting kelembagaan petani (Kelompok Tani) harus dapat mengelola sarana dan prasarana irigasi ini. Saya titip pesan, ini harus dirawat sampai puluhan tahun. Infrastruktur pengairan ini nilainya tidak kecil,” tambah Dhani Gartina.
Dampak positif program ini langsung dirasakan oleh masyarakat. Kepala Dusun Sumenggo, Julianto, mengungkapkan bahwa bantuan sumur bor dalam menjadi solusi atas persoalan air yang telah dihadapi petani selama bertahun-tahun.
“Atas nama masyarakat petani Sumenggo dan Junggosari, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah, khususnya kepada Menteri Pertanian dan Presiden Republik Indonesia. Bantuan ini sangat berarti, sehingga petani kami tidak lagi kesulitan air,” ungkapnya.
Sebelum adanya fasilitas ini, petani masih mengandalkan sumur bor dangkal dengan biaya operasional yang cukup tinggi. Kini, biaya tersebut dapat ditekan secara signifikan.
“Dulu, kalau pakai sumur bor dangkal, biayanya bisa sampai Rp500 ribu per hari. Sekarang, dengan sumur bor dalam, biaya hanya sekitar Rp70 ribu karena sekarang dengan listrik, ndak susah lagi nyari dan pikul-pikul solar. Ini sangat membantu dan meringankan beban petani,” jelas Julianto.
Baca Juga: Sektor Pertanian Jadi Ujung Tombak, Pemkab Blitar Mulai Susun Rencana Pembangunan 2027
Ia juga menyebut bahwa bantuan ini merupakan hasil dari penantian panjang masyarakat selama puluhan tahun.
“Ini penantian kami sudah lama, bahkan sampai 30 tahun. Selama ini sulit sekali mengajukan sumur bor dalam. Alhamdulillah, sekarang di era Presiden dan Menteri Pertanian saat ini, prosesnya dipermudah dan akhirnya bisa terwujud. Ini sangat luar biasa bagi kami,” tuturnya.
Sebagai tambahan, pembangunan infrastruktur air seperti JIAT tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya, tetapi juga berpotensi meningkatkan indeks pertanaman serta produktivitas hasil panen. Dengan ketersediaan air yang lebih stabil, petani dapat menanam lebih dari satu kali dalam setahun.
Sebagai penutup, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui efisiensi biaya dan peningkatan hasil produksi. (San)



















