Blitar, serayunusantara.com – Pemerintah Kota Blitar mengambil langkah konkret untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan ruang publik dengan memasang alat pengusir burung blekok di kawasan Alun-Alun Kota Blitar, Jumat (10/4/2026).
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin atau yang akrab disapa Mas Ibin, bersama jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) dalam agenda kerja bakti rutin. Pemasangan alat difokuskan di sejumlah titik, terutama di area pohon beringin yang selama ini menjadi tempat favorit burung blekok bertengger.
Baca Juga: 200 Unit Becak Listrik Prabowo Mengaspal di Blitar, Simbol Modernisasi Ekonomi Rakyat
Mas Ibin menjelaskan, keberadaan burung blekok menjadi salah satu penyebab utama kotornya area alun-alun, meskipun pembersihan dilakukan setiap hari. Oleh karena itu, pemasangan alat pengusir menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan sekaligus mendukung gerakan Indonesia Asri.
Menurutnya, alun-alun memiliki fungsi penting sebagai ruang terbuka publik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Karena itu, kondisi kebersihan dan kenyamanan harus terus dijaga agar tetap layak digunakan oleh semua kalangan, termasuk anak-anak.
Ia juga menegaskan bahwa metode pengusiran burung dilakukan secara bertahap dan tetap memperhatikan aspek ramah lingkungan tanpa menyakiti hewan. Pemerintah pun membuka ruang partisipasi masyarakat melalui kanal pengaduan untuk memberikan masukan terkait penanganan masalah tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar, Jajuk Indihartati, menyampaikan bahwa pemasangan alat ini merupakan bagian dari pembenahan fasilitas alun-alun yang dilakukan secara berkala. Pihaknya juga terus mengoptimalkan pembersihan rutin, terutama di titik-titik yang menjadi lokasi bertengger burung.
Ia menambahkan, kebersihan alun-alun tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga fasilitas publik yang telah tersedia.
Dalam kegiatan tersebut, Mas Ibin juga menarik perhatian dengan berjalan kaki dari rumah dinas menuju lokasi, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan becak, bahkan sempat mengayuh sendiri sebagai simbol kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat. (San)



















