Ada Banjir di Probolinggo, Pihak Terkait Didorong Penanganan Cepat dan Mitigasi Awal

Probolinggo, serayunusantara.com – Menyusul banjir akibat hujan lebat yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Probolinggo, Mohammad Haris meninjau langsung lokasi terdampak di Kecamatan Sumberasih dan Tongas, Minggu (18/1/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi.

Dalam peninjauan itu, Haris didampingi jajaran perangkat daerah serta unsur Forkopimka Sumberasih. Rombongan menyambangi beberapa titik terdampak, diawali dari Dusun Blibis, Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih. Di lokasi tersebut, Haris melihat kondisi permukiman warga sekaligus menyapa masyarakat yang tengah membersihkan lumpur dan sisa material banjir.

Peninjauan berlanjut ke jembatan perbatasan Desa Sumberbendo–Desa Ambulu, bantaran sungai di sekitar area penjemuran hasil pertanian dan permukiman warga di Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih, serta Desa Sumendi, Kecamatan Tongas. Rangkaian kegiatan ditutup di Gang Sampo, Dusun Bayeman Tengah, Desa Bayeman, Kecamatan Tongas.

Haris menyampaikan bahwa pemerintah daerah sejak awal telah menyiapkan konsep besar penanggulangan bencana yang menitikberatkan pada kecepatan respons, ketepatan asesmen, mitigasi dini, serta kolaborasi lintas sektor secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan, konsep tersebut dirumuskan berdasarkan pengalaman daerah dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang kerap berulang. Dalam beberapa kejadian sebelumnya, tercatat sekitar 13 jembatan rusak akibat bencana, disusul banjir kembali dalam satu hingga dua bulan terakhir akibat tingginya curah hujan.

Baca Juga: Atlet Catur Probolinggo Raih Empat Medali di SEA Games Thailand 2025

Menurut Haris, intensitas hujan yang tinggi berdampak hampir merata di berbagai kawasan rawan bencana, baik wilayah barat, tengah, maupun timur Kabupaten Probolinggo. Karena itu, ia meminta seluruh perangkat daerah terkait, khususnya BPBD, untuk memperkuat koordinasi dengan kecamatan dan desa agar asesmen dapat dilakukan secara akurat dan mitigasi bisa disiapkan lebih awal.

Ia menegaskan, meski bencana alam tidak dapat dicegah sepenuhnya, dampaknya dapat ditekan melalui perencanaan yang matang dan sistem penanganan yang terintegrasi hingga ke tingkat desa.

Dalam penanganan bencana, keterlibatan semua pihak dinilai menjadi kunci, mulai dari perangkat daerah, TNI-Polri, pemadam kebakaran, relawan, hingga pemerintah desa. Selain itu, partisipasi aktif masyarakat melalui gotong royong juga menjadi kekuatan utama dalam menghadapi situasi darurat.

Haris berharap, dengan asesmen yang terus diperbarui serta kolaborasi yang semakin solid, penanganan bencana ke depan dapat lebih tepat sasaran sehingga dampaknya dapat diminimalisir. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus hadir dan bekerja bersama masyarakat dalam setiap kondisi darurat. (Ke/ha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *