Blitar, serayunusantara.com – Dentuman bedug masjid masih menjadi suara khas yang ditunggu masyarakat, terutama di kawasan permukiman lama.
Meski adzan sudah diperkuat pengeras suara, bunyi bedug menghadirkan sentuhan tradisional yang sulit digantikan. Suaranya seolah mengikat kenangan dan kebiasaan warga.
Menurut Warsito, warga sekitar masjid, bedug bukan sekadar alat penanda salat. “Kalau bedug ditabuh, rasanya seperti panggilan yang lebih dekat, lebih hangat,” ujarnya sambil tersenyum. Ia mengaku suara itu membuat suasana kampung terasa lebih hidup, terutama menjelang Magrib.
Bagi sebagian masyarakat, bedug juga menjadi identitas sebuah masjid. Ketika dentumannya terdengar, orang-orang langsung tahu dari arah mana suara berasal. Hal ini membuat warga merasa memiliki kedekatan emosional, seolah suara itu hadir untuk mengingatkan tanpa memaksa.
Baca Juga: Kerupuk, Raja Pendamping Santapan yang Tak Tergantikan, Tetap Jadi Primadona Kuliner di Blitar
Takmir masjid pun berusaha menjaga tradisi ini agar tetap lestari. Mereka mengajak remaja masjid untuk belajar menabuh bedug, terutama saat Ramadan.
“Anak-anak senang sekali kalau diajak latihan. Mereka merasa jadi bagian dari masjid,” kata Mulyadi, salah satu pengurus masjid.
Di tengah perkembangan modern, bedug tetap berdiri sebagai jembatan antara masa lalu dan hari ini. Masyarakat memandangnya sebagai simbol yang tidak hanya memberi tanda waktu, tetapi juga membawa rasa kebersamaan. Tradisi itu terus hidup, mengalun dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Ha/blt)







