Blitar, serayunusantara.com — Rentetan kasus depresi yang berujung pada tindakan nekat di kalangan lansia penderita penyakit kronis menjadi alarm keras bagi masyarakat Blitar Raya.
Para pakar kesehatan menekankan bahwa pengobatan penyakit fisik seperti asam urat kronis, diabetes, atau stroke tidak akan maksimal tanpa dibarengi dengan dukungan psikologis yang kuat dari pihak keluarga.
Penyakit kronis yang diderita bertahun-tahun seringkali menimbulkan rasa tidak berdaya, putus asa, dan perasaan menjadi beban bagi orang lain.
Kondisi inilah yang menjadi pintu masuk bagi gangguan kesehatan mental serius atau depresi berat.
Dr. Anita Permata, seorang praktisi kesehatan mental di Blitar, menjelaskan bahwa pendampingan keluarga bukan sekadar memberikan obat tepat waktu.
Ia mengatakan, penderita penyakit menahun sering kali kehilangan harapan.
Baca Juga: Boys Crisis: Krisis Kesehatan Mental Laki-Laki yang Terlalu Lama Disembunyikan
“Peran keluarga sangat krusial untuk hadir secara emosional, mendengarkan keluhan mereka tanpa menghakimi, dan memberikan motivasi agar mereka tetap merasa berharga meskipun sedang sakit,” ungkap Dr. Anita dalam sebuah wawancara.
Ia juga menambahkan beberapa langkah praktis bagi keluarga untuk mencegah depresi pada pasien kronis:
Komunikasi Aktif: Ajak pasien berbicara tentang hal-hal di luar penyakitnya.
Libatkan dalam Aktivitas Ringan: Berikan peran kecil di rumah agar mereka tetap merasa mandiri dan dibutuhkan.
Peka terhadap Perubahan Perilaku: Waspadai jika pasien mulai menarik diri, kehilangan minat makan, atau sering berbicara tentang keputusasaan.
Seorang warga Blitar yang tengah merawat orang tuanya, Hadi (42), mengakui tantangan dalam memberikan dukungan moral.
“Memang melelahkan secara fisik dan mental, tapi kami belajar bahwa senyum dan kehadiran kami di samping tempat tidur itu terkadang lebih menenangkan daripada sekadar obat-obatan. Kami tidak ingin orang tua kami merasa sendirian menghadapi sakitnya,” tutur Hadi.
Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, diharapkan masyarakat tidak hanya fokus pada penyembuhan fisik, tetapi juga membangun benteng emosional yang kuat di lingkungan keluarga. (Fis/Serayu)







