Blitar, serayunusantara.com — Busana adat Jawa bukan sekadar pakaian, melainkan simbolisme yang sarat akan nilai kehidupan.
Salah satu keunikan yang sering mengundang tanya adalah posisi penempatan keris yang diselipkan pada sabuk bagian belakang.
Meski terlihat sederhana, tata cara penggunaan keris ini memiliki filosofi mendalam yang mencerminkan karakter rendah hati dan pengendalian diri bagi pria Jawa dalam kehidupan bermasyarakat, Minggu (11/01/2026).
Penempatan keris di belakang melambangkan bahwa seorang pria harus mampu menahan emosi dan tidak menunjukkan kekuasaannya secara pamer atau konfrontatif.
Keris di belakang menandakan bahwa senjata hanya akan digunakan dalam keadaan terdesak atau untuk perlindungan diri, bukan untuk memicu pertikaian.
Hal ini sejalan dengan konsep ngasorake diri atau merendahkan hati untuk mencapai kedamaian sosial.
Joyo (62), seorang perajin sekaligus pelestari budaya di Blitar, menjelaskan bahwa posisi keris adalah bentuk tata krama tingkat tinggi.
Baca Juga: Jadi Magnet Wisata Jawa Timur, Monumen SLG Kediri Diserbu Puluhan Ribu Wisatawan di Awal Tahun 2026
Ia menjelaskan, dalam budaya Jawa, menaruh keris di depan itu dianggap menantang atau sedang dalam suasana perang.
Sebaliknya, menaruhnya di belakang (nyengkelit) menunjukkan bahwa kita datang dengan niat damai dan penuh hormat kepada tuan rumah atau lawan bicara.
“Ini adalah pengingat bagi laki-laki agar selalu ‘eling’ atau sadar diri bahwa kekuatan sejati ada pada kendali emosi, bukan pada pamer senjata,” tutur Mbah Joyo saat ditemui di kediamannya.
Kearifan lokal ini terus dijaga melalui penggunaan busana adat di berbagai acara resmi dan upacara tradisi.
Dengan memahami makna di balik posisi keris, generasi muda diharapkan dapat menyerap nilai-nilai kesantunan yang menjadi jati diri bangsa di tengah modernitas. (Fis/Serayu)







