Kisah Bu Sumartini: Bertahan di Antara Pernak-pernik dan Oleh-oleh Khas Blitar di Kawasan PIPP

Blitar, serayunusantara.com — Di salah satu sudut kios perdagangan PIPP Blitar, terlihat seorang wanita paruh baya dengan ramah menyapa setiap pengunjung yang melintas.

Ia adalah Ibu Sumartini, seorang pedagang aksesoris dan oleh-oleh khas Blitar yang telah lama menggantungkan hidupnya dari ramainya kunjungan wisatawan di kawasan tersebut.

Di lapaknya, tersusun rapi berbagai kerajinan tangan, mulai dari gantungan kunci kayu, kaus bergambar Bung Karno, hingga kerajinan khas perunggu.

Ibu Sumartini merupakan representasi dari kegigihan pedagang kecil yang terus berupaya menjaga kualitas produk oleh-oleh bagi para peziarah.

Baginya, berjualan aksesoris bukan hanya soal mencari untung, tetapi juga memperkenalkan identitas Kota Blitar kepada tamu dari luar daerah.

Meski persaingan semakin ketat, ia tetap optimis karena produk yang dijualnya memiliki keunikan tersendiri.

Baca Juga: PIPP Kota Blitar: Wajah Baru Layanan Wisata dan Perdagangan di Jantung Kota

Ibu Sumartini (66), menceritakan pengalamannya dalam menghadapi fluktuasi jumlah pembeli, terutama setelah masa liburan tahun baru.

“Alhamdulillah, kalau tahun baru kemarin ramai sekali, banyak yang beli kaus sama pernak-pernik buat kenang-kenangan. Sekarang sudah mulai normal lagi, tapi tetap ada saja pembeli dari rombongan bus yang lewat,” tuturnya dengan senyum tulus.

Selain menjual aksesoris, Ibu Sumartini juga menyediakan aneka makanan ringan khas seperti wajik kletik dan sambel pecel.

Dedikasi pedagang seperti Bu Sumartini inilah yang membuat kawasan PIPP terasa hidup dan memiliki jiwa.

Pemerintah daerah diharapkan terus memberikan dukungan berupa penataan pasar agar pedagang tradisional seperti dirinya tetap dapat bersaing di era modern. (Fis/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *