Blitar, serayunusantara.com — Sejak kecil, kita didoktrin untuk makan tiga kali sehari—pagi, siang, dan malam—guna menjaga kesehatan.
Namun, seiring berkembangnya tren diet seperti intermittent fasting, banyak orang mulai mempertanyakan apakah pola makan tiga kali sehari adalah fakta medis atau sekadar mitos budaya yang sudah turun-temurun.
dr. Handoko, Sp.GK, seorang spesialis gizi klinik di Blitar, menjelaskan bahwa frekuensi makan sebenarnya sangat bergantung pada kebutuhan metabolisme masing-masing individu.
Ia mengatakan, makan tiga kali sehari itu sebenarnya bukan aturan kaku bagi semua orang. Yang terpenting bukanlah berapa kali kita makan, melainkan total kalori dan kualitas nutrisi yang masuk dalam sehari.
Baca Juga: Sarapan Ala-ala di Luar Negeri yang Membawa Pengalaman Pagi ke Level Baru di Blitar
“Faktanya, penderita maag memang disarankan makan lebih sering dengan porsi kecil, namun bagi orang sehat, dua kali makan besar dengan nutrisi lengkap pun sudah cukup,” ungkap dr. Handoko dalam wawancara di kliniknya, Jumat (26/12/2025).
Mitos yang sering beredar adalah melewatkan sarapan dapat merusak metabolisme secara permanen. Namun, menurut dr. Handoko, tubuh manusia sangat adaptif.
“Bagi mereka yang aktif di pagi hari, sarapan adalah energi krusial. Tapi bagi yang tidak terbiasa, memaksakan makan saat perut belum siap justru bisa mengganggu pencernaan. Kuncinya adalah mendengarkan sinyal lapar tubuh (mindful eating), bukan sekadar mengikuti jadwal jam dinding,” tambahnya. (Fis/Serayu)







