Trenggalek, serayunusantara.com — Menjadi nelayan di pesisir selatan Trenggalek, khususnya di wilayah Prigi, bukan sekadar urusan menebar jaring di tengah laut.
Para nelayan setempat memiliki kiat-kiat khusus dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun untuk memastikan tangkapan ikan tetap melimpah meskipun kondisi cuaca sering kali tidak menentu.
Pengetahuan tentang arah angin, pergerakan arus air, hingga tanda-tanda alam di langit menjadi modal utama sebelum kapal berangkat melaut, Selasa (06/01/2026).
Kiat utama yang dilakukan oleh nelayan profesional adalah memantau suhu permukaan laut dan perubahan warna air.
Menurut para nelayan, air yang berwarna biru pekat biasanya menandakan perairan yang dalam dan kaya akan ikan-ikan besar seperti tuna.
Baca Juga: Menengok Pelabuhan Prigi: Pusat Niaga Ikan Segar Terbesar di Pesisir Selatan Trenggalek
Selain itu, mereka sering kali memperhatikan pergerakan burung laut yang berputar-putar di satu titik, yang menjadi sinyal kuat adanya gerombolan ikan kecil yang sedang naik ke permukaan.
Sudirman (54), seorang nelayan kawakan di Pelabuhan Prigi, membagikan rahasia teknis yang sering ia gunakan.
Menurutnya, kunci utama menangkap ikan itu ada pada kesabaran dan kecermatan membaca arus. Tidak bisa melawan arus, tapi harus mengikuti ke mana arahnya membawa makanan ikan.
Selain itu, kebersihan jaring juga sangat berpengaruh; jaring yang kotor biasanya terdeteksi oleh ikan. Pihaknya juga sudah mulai menggunakan teknologi ‘fish finder’ di kapal, tapi insting tetap nomor satu.
“Kalau sudah melihat burung camar berkumpul, itu tandanya jaring harus segera disiapkan,” jelasnya saat merapikan perlengkapan kapal.
Penggunaan lampu dengan daya tinggi pada malam hari juga menjadi strategi penting untuk menarik perhatian ikan-ikan pelagis.
Sinergi antara teknologi modern dan insting tradisional inilah yang membuat nelayan Trenggalek tetap mampu menjaga produktivitas hasil laut mereka sebagai tulang punggung ekonomi daerah. (Fis/Serayu)







