Penghijauan di Pesantren Kediri Warnai Peringatan Hari Juang 2025

Kediri, serayunusantara.com Kegiatan penghijauan digelar di Lapangan Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Acara ini melibatkan sekitar 350 peserta dari berbagai unsur seperti pemerintah daerah, kepolisian, komunitas budaya, perguruan silat, pelajar, relawan, kelompok masyarakat, kelompok tani, hingga lembaga kemasyarakatan.

Kegiatan tersebut dirangkai dengan apel penanaman pohon yang dilakukan di 15 kelurahan di wilayah Kecamatan Pesantren. Sebanyak 1.500 bibit pohon ditanam sebagai langkah bersama menjaga kelestarian lingkungan.

“Penanaman ini bagian dari komitmen bersama untuk merawat ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan,” ujar Danramil 02/Pesantren Kodim 0809/Kediri, Dwi Agus Harianto,

Baca Juga: Ruang Terbuka Hijau SLG, Oase Kota Kediri untuk Relaksasi dan Aktivitas Keluarga

Ia menambahkan bahwa kegiatan penghijauan ini tidak hanya sekadar aksi simbolis, tetapi juga dorongan untuk memperkuat hubungan sosial antarkomunitas serta meningkatkan kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga bumi.

“Tanggung jawab lingkungan bukan tugas satu pihak saja, tapi seluruh komponen masyarakat,” katanya.

Kegiatan ini berlangsung dalam rangkaian peringatan Hari Juang Tahun 2025 yang mengusung tema kebersamaan, persatuan, dan kesejahteraan. Selama peringatan berlangsung 6 sampai 14 Desember 2025, sejumlah kegiatan sosial dan edukatif digelar sebagai upaya memperkuat kepedulian lingkungan.

Menurut Dwi Agus, kerja sama lintas unsur dalam penghijauan semacam ini sangat penting di tengah semakin seringnya terjadi bencana alam. Ia mengingatkan perlunya langkah nyata dalam menghadapi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

“Sekarang bencana sudah terjadi di mana-mana. Ini waktunya kita memperbaiki apa yang bisa diperbaiki,” ujarnya.

Baca Juga: Pasar Wates Kediri Tampil Modern Pasca Revitalisasi, Tingkatkan Kenyamanan Pedagang dan Pembeli

Wahyuono, Ketua Dewan Kebudayaan Kota Kediri, mengapresiasi kegiatan yang melibatkan banyak unsur masyarakat ini. Ia menilai kerja kolektif seperti ini dapat memperkuat nilai gotong royong dan menjaga tradisi lokal.

“Kerja bersama seperti ini bisa membuat daerah kita lebih kuat. Kolaborasi harus terus dijaga,” jelas Wahyuono.

Ia juga menekankan pentingnya merawat pohon yang telah ditanam, bukan hanya menanamnya. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga kelestarian alam sekitar,” ucapnya.

Wahyuono menjelaskan bahwa tanaman yang ditanam tidak hanya bermanfaat dari sisi ekonomi dan kesehatan, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam konservasi alam seperti menjaga sumber mata air, mengurangi risiko longsor dan banjir, serta menambah kerindangan yang membantu menahan dampak pemanasan global.

“Penanaman tanaman obat dan rempah ini adalah bentuk pelestarian tanaman berkhasiat yang mulai langka, agar kelak bermanfaat untuk anak cucu kita,” katanya. (samsul/ha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *