Produksi Beras di Kabupaten Blitar Naik 4 Persen, Turunnya Harga Pupuk dan Distribusi Tepat Waktu Jadi Pendorong

Blitar, serayunusantara.com – Produksi padi di Kabupaten Blitar diproyeksikan meningkat pada tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Pertanian, produksi gabah kering panen (GKP) diperkirakan mencapai 266.592 ton atau naik 11.592 ton dari capaian 2024 yang sebesar 254.999 ton.

Lonjakan serupa terjadi pada gabah kering giling (GKG) yang naik dari 212.618 ton menjadi 222.284 ton, serta produksi beras yang meningkat dari 136.118 ton menjadi 142.306 ton. Totalnya, produksi beras tahun ini diprediksi naik 6.188 ton atau lebih dari 4 persen.

Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo, menjelaskan bahwa tren positif ini tidak lepas dari peningkatan kualitas panen serta stabilnya pasokan pupuk sepanjang tahun.

“Panen kita naik lebih dari 4 persen. Ini menunjukkan adanya perbaikan dari hulu ke hilir. Kami di Dinas Pertanian berkomitmen menjaga penyaluran pupuk agar tepat waktu sehingga tidak menghambat musim tanam,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin (8/12/2025).

Baca Juga: Blitar Ekraf CollaboArt Festival Sukses Digelar, Padukan Ekonomi Kreatif, Seni, dan Budaya Lokal

Siswoyo mengatakan, kondisi tersebut juga didorong oleh kebijakan pemerintah yang menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sejak 22 Oktober 2025. Penurunan harga pupuk, seperti Phonska dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram dan Urea dari Rp2.250 menjadi Rp1.800, berdampak langsung pada menurunnya biaya produksi petani.

“Biaya produksi terpangkas cukup signifikan, bahkan hingga 40 persen untuk beberapa jenis pupuk. Ini sangat membantu petani meningkatkan margin keuntungan,” jelasnya.

Grafik produksi beras tahun 2024 -2025 di Kabupaten Blitar. (Dok. DKPP Kabupaten Blitar)

Secara keseluruhan, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi tahun 2025 juga menunjukkan angka yang cukup menggembirakan. Dari kuota 36 juta kilogram Urea, sebanyak 30,5 juta kilogram atau 84,7 persen telah tersalurkan.

Pupuk NPK memiliki kinerja penyaluran terbaik, yakni 89,2 persen dari 37,8 juta kilogram. Pupuk organik mencapai serapan 51,1 persen, sedangkan pupuk ZA berada pada angka 33,8 persen.

“Sebagian besar kebutuhan pupuk petani tercukupi dan distribusinya terjaga. Kami terus mendorong agar sisa alokasi dapat dimanfaatkan sebelum musim tanam berikutnya dimulai,” pungkas Siswoyo. (Jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *