Blitar, serayunusantara.com — Permintaan kopi yang terus meningkat menjadikan budidaya kopi sebagai prospek bisnis pertanian jangka panjang yang menjanjikan.
Bagi petani pemula atau yang tertarik menanam kopi di kebun, terdapat tiga aspek penting yang harus dipelajari sejak awal penanaman.
Pertama, pilih varietas kopi yang sesuai dengan ketinggian lahan. Kopi Arabika ideal ditanam di dataran tinggi (di atas 1000 mdpl), sementara Robusta lebih toleran di dataran rendah hingga menengah.
Pemilihan varietas yang tepat sangat menentukan kualitas dan hasil panen.
Kedua, perhatikan naungan (shading) yang memadai. Pohon kopi, terutama Arabika, tidak menyukai sinar matahari langsung secara terus-menerus.
Baca Juga: Americano, Minuman Low Calorie yang Jadi Tren Kopi Baru di Kalangan Remaja Blitar
Penanaman pohon pelindung, seperti lamtoro atau dadap, sangat diperlukan untuk mengatur intensitas cahaya, menjaga kelembapan tanah, dan melindungi bunga kopi.
Ketiga, lakukan pemangkasan (pruning) secara teratur. Pemangkasan penting dilakukan untuk mengontrol bentuk pohon, membuang cabang yang tidak produktif atau sakit, dan merangsang pertumbuhan cabang baru yang akan menghasilkan buah.
Pemangkasan yang baik menjamin sirkulasi udara optimal dan memudahkan panen.
Seorang pemilik perkebunan kopi di lereng Gunung Kelud, Bapak Harno (65), membagikan pengalamannya.
Menurutnya, kopi adalah tanaman yang sabar. Hasilnya baru kelihatan setelah tiga sampai empat tahun.
“Kuncinya adalah sabar dan rajin memangkas. Jangan biarkan pohon tumbuh liar, karena kualitas buahnya pasti akan menurun,” tegas Bapak Harno. (Fis/Serayu)







