Blitar, serayunusantara.com – Setelah vakum sejak 2019, Women March Blitar akhirnya kembali hadir dengan energi baru. Komunitas ini menggelar diskusi bersama Berswa Sembada pada Sabtu (22/11/25).
Dengan membedah novel Paya Nie karya Ida Fitri—sebuah kisah fiksi yang menyoroti keterbatasan ruang gerak perempuan di tengah konflik bersenjata sekaligus kekuatan mereka dalam melawan penindasan.
Acara yang berlangsung sederhana namun hangat itu diikuti sekitar 20 peserta dari berbagai latar belakang.
Diskusi berjalan cair, tanpa batasan, dan membuka ruang aman bagi peserta untuk saling berbagi perspektif maupun pengalaman pribadi.
Novel Paya Nie sendiri mengangkat realitas pahit perempuan yang hidup dalam situasi konflik, di mana tubuh, ruang gerak, dan pilihan hidup mereka dibatasi oleh kekuasaan senjata dan struktur sosial yang timpang.
Baca Juga: Diskusi Tematik “Boys Crisis” Kupas Tantangan Laki-Laki Masa Kini di Lapak Baca Ceria
Lewat dialog panjang, para peserta membahas bagaimana perempuan tetap mampu menunjukkan daya juang, solidaritas, dan keteguhan mental di tengah kekerasan yang mengungkung.
Imey Catherine, salah satu peserta diskusi, mengungkapkan bahwa atmosfer diskusi terasa hangat dan suportif.
“Vibes-nya menyenangkan, nggada yang membatasi teman-teman untuk berbagi perspektif soal buku itu. Bahkan beberapa teman juga menyampaikan pengalaman keji mengenai kejadian pelecehan yang sempat terjadi pada mereka,” ujarnya.
Kembalinya Women March Blitar menjadi sinyal positif bagi ruang gerak diskusi perempuan di Blitar.
Komunitas ini berencana melanjutkan agenda-agenda literasi, dialog, dan kampanye kesetaraan gender agar semakin banyak ruang aman tercipta bagi perempuan muda di kota ini. (Fis/Serayu)







