Blitar serayunusantara.com — Gelombang protes muncul dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Blitar terkait meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan di wilayah tersebut.
Aktivis mahasiswa ini menilai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar telah gagal dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Maraknya kasus penganiayaan hingga kekerasan seksual belakangan ini disebut sebagai “alarm” tanda darurat kemanusiaan yang harus segera ditangani secara serius, Senin (09/02/2026).
PMII Blitar menegaskan bahwa perlindungan terhadap kaum rentan seharusnya menjadi prioritas utama dalam kebijakan daerah.
Mereka mengkritik kinerja instansi terkait yang dianggap hanya bersifat reaktif setelah kasus terjadi, namun minim dalam upaya pencegahan dan pemulihan trauma korban secara tuntas.
Mahasiswa mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap regulasi perlindungan perempuan dan anak agar tidak hanya menjadi sekadar tumpukan dokumen tanpa implementasi nyata di lapangan.
Burhan (28), seorang warga yang peduli terhadap isu sosial di Blitar, sependapat bahwa keamanan warga adalah tanggung jawab bersama yang dipimpin oleh pemerintah.
“Suara mahasiswa ini adalah pengingat bagi kita semua. Tips dari saya untuk para orang tua dan warga, jangan ragu untuk melapor jika melihat ada indikasi kekerasan di lingkungan sekitar,” tegasnya saat ditemui di sela kesibukannya.
Kritik ini muncul menyusul beberapa tragedi kekerasan yang menjadi sorotan publik dalam beberapa pekan terakhir.
PMII meminta Pemkab Blitar tidak hanya memberikan bantuan hukum secara simbolis, tetapi juga menyediakan layanan psikososial yang mudah diakses hingga ke tingkat desa.
Mereka mengancam akan melakukan pengawalan ketat jika tidak ada langkah konkret dari pemerintah untuk menekan angka kekerasan tersebut.
Desakan ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan di Blitar untuk bersinergi dalam memutus rantai kekerasan.
Komitmen pemerintah dalam melindungi hak-hak perempuan kini tengah diuji di tengah sorotan tajam masyarakat dan elemen pemuda. (Fis/Serayu)







