Teheran, serayunusantara.com – Hubungan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah bertransformasi dari aliansi strategis di bawah dinasti Pahlavi menjadi salah satu persaingan paling berbahaya dan berkepanjangan dalam politik internasional modern.
Konflik yang memuncak pada Operasi militer besar-besaran di tahun 2026 ini sebenarnya berakar pada peristiwa-peristiwa traumatis di abad ke-20 yang membentuk persepsi ancaman kedua negara.
Titik Balik Pertama: Kudeta 1953 Akar ketegangan ini tertanam kuat pada tahun 1953, ketika CIA (melalui Operasi TP-AJAX) dan intelijen Inggris (MI6) meluncurkan kudeta untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran yang terpilih secara demokratis, Mohammad Mosaddegh.
Keputusan Mosaddegh untuk menasionalisasi industri minyak Iran dipandang sebagai ancaman terhadap kepentingan ekonomi Barat. Pemulihan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi setelah kudeta tersebut menciptakan ketergantungan rezim pada dukungan AS, yang menyemai benih sentimen anti-imperialisme di kalangan rakyat Iran.
Revolusi Islam 1979 dan Krisis Sandera: Paradigma hubungan kedua negara berubah secara radikal setelah Revolusi Islam 1979. Pengusiran Shah dan berdirinya teokrasi di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini menggantikan monarki pro-Barat dengan rezim yang secara eksplisit menolak pengaruh Amerika Serikat, yang dijuluki sebagai “Setan Besar”.
Baca Juga: Krisis Kepemimpinan Teheran dan Blokade Global: Iran di Ambang Keruntuhan Pasca Kematian Khamenei
Ketegangan mencapai titik didih pada November 1979 ketika mahasiswa Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera 52 warga Amerika selama 444 hari. Peristiwa ini memicu pemutusan hubungan diplomatik resmi antara Washington dan Teheran yang tidak pernah pulih hingga saat ini.
Sejak saat itu, AS menerapkan strategi penahanan (containment) sementara Iran mengembangkan doktrin perlawanan melalui jaringan proksi regional yang dikenal sebagai “Axis of Resistance”.
Konfrontasi Militer 1980-an: Selama dekade 1980-an, persaingan beralih ke jalur maritim dalam apa yang disebut sebagai Perang Tanker. Amerika Serikat meluncurkan Operasi Praying Mantis pada tahun 1988 sebagai balasan atas ranjau laut Iran, yang mengakibatkan kehancuran signifikan pada angkatan laut Iran.
Pada tahun yang sama, tragedi jatuhnya pesawat sipil Iran Air Penerbangan 655 oleh kapal perang AS USS Vincennes semakin memperdalam kebencian Teheran terhadap kekuatan militer Amerika.
Era Nuklir dan Tekanan Maksimum: Sejak awal abad ke-21, program nuklir Iran menjadi fokus utama gesekan internasional. Meskipun sempat ada jeda melalui perjanjian nuklir JCPOA pada 2015, penarikan sepihak AS di bawah pemerintahan Donald Trump pada 2018 memicu siklus “tekanan maksimum”.
Kebijakan ini bertujuan melumpuhkan ekonomi Iran melalui sanksi berat agar Teheran bersedia merundingkan kesepakatan baru yang mencakup program rudal balistik dan pengaruh regionalnya.
Eskalasi 2026: Titik Terendah Memasuki periode 2025-2026, upaya diplomasi untuk menghidupkan kembali JCPOA menemui jalan buntu. Kegagalan negosiasi ini, ditambah dengan laporan intelijen mengenai percepatan pengayaan uranium dan program rudal Iran, memicu serangkaian serangan militer terkoordinasi.
Konflik panjang ini akhirnya mencapai titik paling berdarah pada 28 Februari 2026 melalui “Operation Epic Fury”, sebuah kampanye udara masif yang menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan melumpuhkan infrastruktur militer Iran secara total. (ha)



















