Blitar, serayunusantara.com — Tren kuliner pedas asal Jawa Barat, seblak, kini mengalami evolusi menarik di wilayah Blitar. Mengusung konsep prasmanan yang membebaskan pembeli memilih sendiri isiannya, jenis kuliner ini tengah menjadi primadona baru, terutama di kalangan remaja perempuan dan mahasiswi.
Pantauan di lapangan menunjukkan keberadaan kios-kios seblak prasmanan ini tidak lagi terpusat di tengah kota, melainkan mulai menyebar luas hingga ke wilayah pinggiran kabupaten, Selasa (31/03/2026).
Konsep prasmanan ini dinilai menjadi kunci utama daya tarik seblak saat ini. Konsumen dapat memilih puluhan jenis topping, mulai dari aneka kerupuk warna-warni, makaroni, bakso, sosis, hingga berbagai jenis frozen food seperti dumpling keju dan chikuwa.
Kebebasan menentukan tingkat kepedasan dan porsi isian sesuai dengan isi kantong membuat tempat-tempat ini selalu dipadati pengunjung setiap sore hingga malam hari.
Menjamurnya kedai seblak di area pinggiran kota seperti wilayah Sanankulon, Kademangan, hingga Talun, membuktikan bahwa pasar kuliner ini sangat potensial. Harga yang ditawarkan pun sangat kompetitif, biasanya mulai dari Rp500 per biji isian, sehingga ramah bagi kantong pelajar dan mahasiswa.
Baca Juga: Bahan Fast Food Kian Beragam, Kedai Kekinian di Kota Blitar Semakin Kreatif
Nanda Saniyaroh, seorang mahasiswi berusia 23 tahun di Blitar, mengaku menjadi salah satu penggemar setia kuliner ini. Menurutnya, menyantap seblak prasmanan bukan sekadar urusan mengenyangkan perut, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan sarana bersosialisasi dengan teman sejawat.
“Seblak prasmanan itu seru karena kita bisa ambil sesuai mood dan uang yang ada di dompet. Biasanya kalau sepulang kuliah, saya dan teman-teman mampir ke kedai langganan yang ada di pinggir jalan raya. Rasanya yang pedas dan gurih itu efektif banget buat menghilangkan stres setelah seharian belajar,” ungkap Nanda.
Lebih lanjut, Nanda menambahkan bahwa suasana kedai yang santai menjadi tempat favorit untuk mengobrol atau sekadar menghabiskan waktu luang.
Ia melihat tren ini semakin berkembang karena banyaknya pilihan kedai baru yang menawarkan tempat yang lebih nyaman dan estetik, meski lokasinya berada agak jauh dari pusat keramaian kota.
Keberadaan bisnis seblak prasmanan ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Banyak pelaku usaha mikro yang sebelumnya hanya berjualan gorengan atau minuman, kini beralih atau menambah menu seblak karena perputarannya yang cepat.
Kreativitas dalam meracik bumbu kencur yang khas menjadi pembeda antara satu kedai dengan kedai lainnya.
Dengan minat yang terus stabil dari kalangan remaja, diprediksi bisnis kuliner pedas ini akan terus bertahan lama di Blitar. Inovasi layanan seperti pesanan daring melalui aplikasi juga semakin memudahkan para pecinta seblak untuk menikmati hidangan favorit mereka tanpa harus keluar rumah. (Fis/Serayu)


















