Jakarta, serayunusantara.com – Lanskap global tahun 2026 memasuki fase paling kritis menyusul pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang berujung pada gugurnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Peristiwa ini tidak hanya mengubah peta keamanan di Teluk, tetapi juga memicu efek domino yang memaksa negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk merombak total strategi ketahanan nasional mereka.
Dampak ekonomi yang paling dirasakan secara instan adalah ancaman terhadap jalur logistik di Selat Hormuz, yang mengangkut sekitar 20% (20,1 juta barel) pasokan minyak global setiap harinya.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel: Bandara Menjadi Target dan Ruang Udara Regional dalam Risiko Tinggi
Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM RI menegaskan bahwa Indonesia sangat berhati-hati dalam menghitung dampak ini karena 19% kebutuhan minyak mentah nasional (25,36 juta barel) biasanya melewati selat tersebut.
“Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri,” ujar Bahlil.
Sebagai langkah konkret, pemerintah kini mengalihkan impor minyak mentah ke negara-negara yang lebih aman seperti Amerika Serikat, Afrika (Angola), dan Brasil, serta mengarahkan pasokan LPG utama dari Amerika Serikat.
Konflik ini dipandang sebagai titik balik yang memperlemah efektivitas lembaga internasional dalam menjaga perdamaian.
Hassan Wirajuda, Mantan Menteri Luar Negeri RI menyoroti bahwa serangan terhadap Iran merupakan tindakan sepihak (unilateral) yang tidak memiliki mandat internasional.
“Didiskusikan tentang implikasinya terhadap keseluruhan masalah keamanan dan perdamaian dunia, apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan posisi dan mandat Board of Peace (BoP),” ungkap Hassan.
Ia menambahkan bahwa dunia kini harus berhitung matang mengenai durasi konflik ini dan dampaknya terhadap rantai pasok energi dunia.
Baca Juga: Perang AS dan Israel Lawan Iran Kini Meluas ke Kawasan Teluk
Presiden Prabowo Subianto merespons ketidakpastian ini dengan menekankan pentingnya stabilitas internal. Dunia saat ini digambarkan sebagai dunia “NAVI” (Non-linear, Accelerated, Volatile, and Interconnected).
Zulkifli Hasan, Menko Bidang Pangan menyampaikan bahwa dalam pertemuan selama tiga jam dengan para ulama dan tokoh agama, Presiden memaparkan secara rinci perkembangan situasi di Timur Tengah agar semua elemen bangsa memahami urgensi kebersamaan.
“Yang paling utama adalah tentu persatuan kita menjaga melindungi seluruh tumpah darah dan rakyat kita,”kata Zulkifli menirukan pesan Presiden.
Di kawasan Asia Tenggara, Filipina yang memegang keketuaan ASEAN 2026 harus menghadapi tekanan besar akibat rivalitas AS-China di Laut Cina Selatan.
Azhari Ardinal, Penulis Strategis Indo Maritim menekankan bahwa laut bukan lagi sekadar ruang ekonomi, melainkan arena kompetisi kekuatan. Dalam konteks ini, Indonesia berperan sebagai “jangkar normatif”.
“Indonesia berkepentingan langsung terhadap stabilitas laut… Jakarta secara konsisten mendorong CoC (Code of Conduct) yang substantif dan mengikat, sekaligus mempertahankan sentralitas ASEAN agar tidak terseret ke dalam orbit rivalitas kekuatan besar,” tulis Azhari. (ha)



















