Klaten, serayunusantara.com – Ratusan warga tampak memadati kawasan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, untuk mengikuti kirab tradisi Kenduri Bakdo Kupat yang berlangsung khidmat pada Jumat (27/3/2026).
Tradisi yang telah dijaga kelestariannya secara turun-temurun sejak tahun 1970 ini digelar sebagai penanda perayaan Lebaran Ketupat sekaligus puncak semangat Idulfitri di tingkat desa.
Sejak pagi hari, warga dari berbagai usia tampak berduyun-duyun membawa ketupat dan ambengan berisi lepet serta aneka sayur lodeh menuju titik kumpul sebagai simbol syukur atas nikmat yang diterima selama setahun terakhir.
Pelaksanaan kenduri tahun ini kembali mempertegas makna filosofis Ngaku Lepat atau mengakui kesalahan dan Laku Papat yang melambangkan empat tindakan mulia dalam budaya Jawa.
Bagi warga Delanggu, momen ini bukan sekadar acara makan bersama, melainkan sarana penting untuk memperkuat hubungan sosial, gotong royong, dan spiritualitas antarwarga.
Ritual dimulai dengan pembacaan zikir serta doa tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, memohon keselamatan serta keberkahan bagi hasil bumi dan kesehatan ternak yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pedesaan.
Keunikan tradisi ini semakin terasa saat memasuki sesi Kembul Bujana, di mana warga duduk bersimpuh menikmati hidangan dari alas daun pisang yang sama.
Baca Juga: Operasi Ketupat Berakhir, Polda Jatim Tetap Siaga Lewat KRYD Amankan Arus Balik
Tradisi makan bersama ini melambangkan semangat kesetaraan yang kuat, menghapus sekat sosial, dan mempererat kebersamaan yang telah terjalin puluhan tahun sejak awal mula tradisi ini dicetuskan.
Di beberapa titik, ketupat-ketupat tersebut bahkan dikirab keliling lingkungan sebelum didoakan, menarik perhatian warga luas yang ingin menyaksikan langsung keaslian budaya lokal Klaten.
Dengan bertambahnya usia tradisi yang kini telah melewati lebih dari lima dekade, Kenduri Bakdo Kupat di Delanggu terus menjadi magnet budaya yang mempertemukan nilai-nilai religius dengan kearifan lokal.
Masyarakat berharap melalui kegiatan ini, nilai-nilai kerukunan dan persaudaraan tetap terjaga erat di tengah arus modernisasi, sekaligus menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang agar tetap mencintai identitas budayanya. (San/serayu)



















