Antisipasi Kemarau 2026, Pemkot Blitar Optimalkan Fungsi Embung untuk Pertanian Antisipasi Kemarau 2026, Pemkot Blitar Optimalkan Fungsi Embung untuk Pertanian

Blitar, serayunusantara.com – Pemerintah Kota Blitar mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau panjang pada 2026. Salah satu strategi yang dilakukan adalah mengoptimalkan fungsi embung sebagai sumber cadangan air guna mendukung kebutuhan sektor pertanian.

Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), pemerintah berupaya memaksimalkan daya tampung embung saat musim hujan, sehingga ketersediaan air tetap terjaga ketika memasuki periode kemarau.

Baca Juga: BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering

Kepala DKPP Kota Blitar, Dewi Masitoh, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menyusun langkah kesiapsiagaan. Hal ini menindaklanjuti arahan agar setiap daerah meningkatkan upaya mitigasi menghadapi potensi kekeringan.

“Arahan dari provinsi sudah kami tindak lanjuti. Kami diminta memastikan kesiapan sarana, termasuk embung, agar bisa digunakan secara optimal saat kemarau,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Di wilayah Kota Blitar, terdapat dua embung yang menjadi fokus penguatan, yakni embung di Jatimalang, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, serta embung di Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan. Kedua lokasi ini dinilai memiliki peran penting dalam menjaga suplai air irigasi bagi lahan pertanian di sekitarnya.

Baca Juga: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Nasional 4-5 April, Jatim Didominasi Berawan hingga Hujan Ringan

Selain peningkatan infrastruktur air, DKPP juga mengimbau petani untuk mulai menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca yang diperkirakan lebih kering. Penggunaan air secara efisien menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

“Petani kami mendorong untuk lebih bijak dalam penggunaan air dan menyesuaikan pola tanam. Dengan begitu, dampak kemarau bisa ditekan,” imbuhnya.

Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas hasil pertanian sekaligus mengurangi risiko kekeringan yang dapat berdampak pada sektor pangan di daerah.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi, optimalisasi embung menjadi solusi strategis dalam menjaga ketahanan air, terutama bagi daerah dengan keterbatasan sumber irigasi alami. Pemerintah berharap sinergi antara infrastruktur dan kesadaran petani dapat memperkuat ketahanan pangan lokal. (San)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *