Bangkit Usai Kalah Pilkada, Bayu Kembangkan Bisnis Melon Hidroponik Bernilai Miliaran

Blitar, serayunusantara.com – Kekalahan dalam Pilkada Kota Blitar 2025 tak membuat Bayu Setyo Kuncoro terpuruk. Mantan calon wakil wali kota itu justru memulai babak baru dengan menekuni usaha budidaya melon hidroponik di lahan hampir satu hektare di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan.

Usaha tersebut mulai dirintis tak lama setelah Pilkada usai. Dengan memanfaatkan sisa modal yang dimiliki, Bayu membangun sembilan green house berbahan rangka bambu. Kini, total fasilitas budidayanya mencapai 11 unit, termasuk dua green house yang telah lebih dulu ia bangun pada 2023 saat masih aktif di DPRD Kota Blitar.

“Ini ya persis setelah Pilkada itu saya bangun. Jadi sudah panen tiga hingga empat kali,” ujar Bayu saat ditemui di lokasi, Rabu (15/4/2026).

Baca Juga: Pemerintah Pusat dan CV Lang Buana Salurkan Bantuan Benih Tebu Unggulan ke Petani Blitar

Dalam pengelolaannya, Bayu menerapkan sistem tanam bergilir agar panen dapat dilakukan secara rutin. Dengan masa tanam sekitar dua bulan lebih sepuluh hari, setiap dua pekan sekali terdapat dua hingga tiga green house yang siap dipanen. Satu unit green house bahkan bisa digunakan hingga empat kali siklus tanam dalam setahun.

Setiap green house berukuran 11 x 30 meter dan mampu menampung sekitar 1.000 tanaman melon. Bayu menggunakan metode hidroponik dengan instalasi paralon berjumlah 14 baris, di mana air bernutrisi dialirkan secara terus-menerus selama 24 jam.

“Saya memilih sistem hidroponik karena menurut saya nutrisi dapat lebih optimal terserap tanaman. Hasil akhirnya ya kualitas buah yang juga bagus,” kata Bayu.

Dalam satu kali panen, satu green house rata-rata menghasilkan sekitar 1,5 ton melon. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen merupakan buah berukuran kecil, sementara sisanya tergolong kualitas premium. Harga jual melon super mencapai Rp 25.000 per kilogram, sedangkan melon ukuran kecil dijual antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per kilogram.

Baca Juga: Dukung Swasembada Pangan, Babinsa Pohgajih Aktif Dampingi Petani Siapkan Lahan Sawah

Dari hasil tersebut, satu green house mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 34,5 juta per panen. Setelah dikurangi biaya operasional sekitar Rp 10 juta, keuntungan bersih yang diperoleh mencapai Rp 25 juta per siklus panen atau sekitar Rp 100 juta per tahun.

Bayu menyebutkan, investasi awal untuk membangun satu green house saat ini mencapai Rp 100 juta. Secara keseluruhan, ia telah menggelontorkan dana sekitar Rp 1,5 miliar untuk mengembangkan usahanya. Ia optimistis modal tersebut dapat kembali dalam waktu dua tahun.

“Waktu Pilkada saya sempat mengampanyekan budidaya melon seperti ini. Dengan hidroponik dan green house. Alhamdulilah kalah. Jadi sekarang saya memang harus memberikan bukti dan contoh dulu,” ujarnya.

Baca Juga: Musrenbang RKPD 2027, Pemkab Blitar Arahkan Pembangunan pada Daya Saing Pertanian dan Pertumbuhan Ekonomi

Ke depan, Bayu berencana menambah empat green house lagi sehingga total menjadi 15 unit. Ia menilai jumlah tersebut merupakan titik optimal untuk mencapai skala ekonomi yang lebih stabil.

Selain sebagai sumber penghasilan baru, Bayu berharap langkahnya dapat menginspirasi masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong menjadi lebih produktif. Ia juga melihat potensi sektor ini untuk mendukung citra Kota Blitar sebagai daerah agrowisata.

Upaya Bayu ini menunjukkan bahwa kegagalan dalam kontestasi politik tidak selalu berakhir dengan keterpurukan. Justru, dengan pendekatan yang tepat, peluang baru dapat tumbuh dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. (San)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *