Bedah Buku Pramoedya, Fahrizal Aziz Bongkar Sisi Melankolis Sang Maestro di Kopi Kalpas

Blitar, serayunusantara.com — Diskusi literasi “Kenang-Kenanglah Pram” di Kopi Kalpas malam tadi menjadi panggung bagi Fahrizal Aziz untuk membedah evolusi pemikiran sang maestro.

Sebagai pemantik, Fahrizal memberikan sorotan tajam pada karya-karya awal Pramoedya Ananta Toer yang menurutnya sering kali disalahpahami oleh pembaca pemula sebagai tulisan yang melulu soal politik, Kamis (12/02/2026).

Fahrizal Aziz menegaskan bahwa sebelum Pram menjadi sosok yang sangat politis dan ideologis, ia adalah seorang penulis yang sangat intim dengan kesedihan dan trauma personal. Hal ini terlihat jelas dalam buku-buku yang lahir di periode awal kepenulisannya.

“Di fase ini, Pram tidak sedang meneriakkan perlawanan politik yang meledak-ledak. Ia justru lebih banyak bicara soal kerapuhan diri, konflik batin, dan bagaimana rasanya menjadi manusia yang kalah di tengah situasi pasca-revolusi yang carut-marut,” tegas Fahrizal Aziz.

Baca Juga: Kopi Kalpas Jadi Surga Buku Semalam: Ada Lapak Baca Gratis hingga Koleksi Langka

Danang (22), salah satu peserta yang hadir dari Kecamatan Nglegok, merasa draf pemikiran ini sangat relevan baginya.

“Ternyata Pram itu tidak langsung jadi ‘raksasa’ yang keras. Kutipan Mas Fahrizal tadi menyadarkan saya kalau Pram juga pernah menjadi manusia biasa yang galau,” ungkapnya.

Fahrizal menambahkan bahwa fase awal ini adalah pondasi penting. Tanpa memahami sisi melankolis dan jujur dari seorang “Pram Muda”, pembaca akan sulit menangkap akar kemarahan sosial yang muncul di karya-karya besarnya kelak.

Diskusi ini pun ditutup dengan kesimpulan bahwa kekuatan utama Pram terletak pada keberaniannya untuk mengakui keraguan dan kesedihannya sendiri di hadapan pembaca. (Fis/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed