Blitar, serayunusantara.com — Riuh rendah diskusi dan aroma kopi menyatu dengan suara gerimis di Kedai Kopi Kalpas, Kota Blitar, Minggu (08/02/2026) malam. Pada agenda bertajuk “Kenang-kenanglah Pram” sebagai peringatan 101 tahun sastrawan Pramoedya Ananta Toer.
Meski peringatan ini berselisih dua hari dari tanggal kelahiran sang maestro, puluhan pegiat literasi tetap antusias berkumpul untuk merawat ingatan terhadap satu-satunya sastrawan Indonesia yang berkali-kali masuk nominasi Nobel Sastra tersebut.
Diskusi bertajuk “Kenang-kenanglah Pram” ini digelar atas kerjasama berbagai komunitas. Seperti Tualang Buku, Perpustakaan Pijar, dan Lapak Baca Ceria.
Dengan menghadirkan tiga pemantik lintas disiplin: Redhitya Wempi (Dosen PBI UNU Blitar), Ratna (Aktivis Perpustakaan Pijar), dan Iiw (Tualang Buku).
Selama hampir tiga jam, suasana yang semula dingin oleh hujan berubah hangat saat para pembicara mengupas sisi kemanusiaan Pram yang jarang terekspos di buku-buku sejarah sekolah.
Nanda Saniyaroh (23), seorang mahasiswa yang ikut menyimak diskusi, merasa tercerahkan dengan narasi yang dibangun.
Baca Juga: Membaca Tan Malaka Lewat Fiksi: Perayaan 9 Tahun Bincangtualang Warnai Sore di Perpus Bung Karno
“Mendengar cerita tentang bagaimana beliau dididik keras oleh ayahnya, Mastoer, saya jadi sadar. Bahwa keberhasilan tidak diperoleh dari usaha instan. Pram saja pernah tinggal kelas, tapi karyanya mendunia,” ungkapnya lugas.
Dalam diskusi tersebut, Redhitya Wempi menyoroti fenomena “jalan pintas” di kalangan mahasiswa saat ini. Ia merasa kecerdasan generasi sekarang cenderung menurun karena terlalu bergantung pada teknologi imitasi.
Senada dengan itu, Iiw Tualang menceritakan betapa keluarga Mastoer di Blora adalah laboratorium kerja keras. Pram dan adik-adiknya ditempa untuk menulis demi menyambung hidup, sebuah proses panjang yang menolak kata instan.
“Melambat seperti Pram” menjadi pesan kunci dalam pertemuan malam itu. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, sosok Pram mengingatkan bahwa kualitas sejati lahir dari ketekunan setapak demi setapak.
Buktinya, salah satu karya yang lahir dari kesabaran itu kini telah diterjemahkan ke lebih dari 42 bahasa asing.
Acara ditutup dengan ajakan dari Ratna untuk mengembalikan gairah membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan.
Melalui membaca, kebenaran akan ditemukan, dan dari sanalah generasi baru Blitar diharapkan bisa “melenting” melampaui pencapaian sang maestro di masa depan. (Fis/Serayu)







