Tuban, serayunusantara.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Juanda menetapkan Kabupaten Tuban sebagai salah satu daerah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem di Jawa Timur pada rentang waktu 1–10 Februari 2026. Peringatan tersebut disampaikan melalui rilis resmi seiring meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi pada puncak musim hujan.
BMKG menyebutkan Tuban masuk dalam wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang berpotensi disertai kilat, petir, dan angin kencang.
Dampak yang mungkin terjadi antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, serta gangguan jarak pandang. Selain Tuban, sejumlah kabupaten dan kota lain di Jawa Timur—mulai dari kawasan selatan, Tapal Kuda, Pantura, hingga Pulau Madura—juga termasuk wilayah terdampak.
Dalam keterangannya, BMKG menjelaskan bahwa seluruh wilayah Jawa Timur saat ini telah memasuki musim hujan, bahkan beberapa daerah masih berada pada fase puncaknya. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya cuaca ekstrem dalam sepuluh hari ke depan yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk sektor transportasi dan perekonomian.
“Dalam sepuluh hari ke depan diprakirakan terjadi peningkatan kejadian cuaca ekstrem yang berpotensi berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” tulis BMKG dalam pernyataan resminya, Sabtu (31/1).
Baca Juga: Laporan Warga Ditindak, Satpol PP Tuban Segel Tower Tak Berizin di Awal Tahun
BMKG mengungkapkan, meningkatnya potensi cuaca ekstrem dipengaruhi oleh aktifnya monsun Asia serta adanya gangguan gelombang atmosfer berupa Low Frequency, Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin yang melintasi Jawa Timur. Faktor lain yang turut berperan adalah suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih relatif hangat serta kondisi atmosfer lokal yang labil, sehingga mendukung pembentukan awan konvektif pemicu hujan lebat.
“Kondisi atmosfer lokal yang tidak stabil mendukung pertumbuhan awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang,” jelas BMKG.
BMKG Statmet Juanda juga mengimbau masyarakat Tuban dan wilayah lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba. Perhatian khusus diminta bagi daerah dengan kondisi topografi curam, perbukitan, dan tebing yang memiliki kerawanan lebih tinggi terhadap longsor dan banjir bandang.
Selain itu, masyarakat diharapkan aktif memantau informasi cuaca terkini melalui radar cuaca WOFI serta layanan peringatan dini resmi BMKG yang disampaikan melalui situs web, media sosial, dan kanal komunikasi lainnya. Langkah tersebut dinilai penting guna mendukung kesiapsiagaan dan meminimalkan dampak cuaca ekstrem.







