Blitar, serayunusantara.com — Aroma kopi yang biasanya memenuhi udara sejak pagi, kini seolah tertahan di balik pintu kaca yang tertutup tirai setengah tiang.
Di sudut-sudut kota, sejumlah kedai kopi tetap memilih untuk membuka pintunya selama bulan Ramadan.
Namun, pemandangan di dalamnya berubah drastis; deretan kursi kayu yang biasanya riuh dengan diskusi mahasiswa atau tawa pengunjung.
Kini tampak kosong dan sunyi, hanya menyisakan desis mesin espresso yang sesekali dinyalakan oleh barista untuk perawatan, Kamis (19/02/2026).
Keputusan untuk tetap buka di siang hari bagi pemilik kedai bukan sekadar mengejar omzet, melainkan menjaga ritme kerja dan melayani pelanggan non-muslim serta musafir yang singgah.
Meski demikian, penurunan jumlah pengunjung secara signifikan tidak bisa dihindari. Suasana kedai yang biasanya energetik kini berubah menjadi ruang kontemplatif yang tenang, menanti waktu berbuka sebagai titik balik keriuhan.
Ulum (46), seorang pemerhati ekonomi kreatif yang kebetulan sedang melintas di kawasan sentra kuliner, memandang fenomena ini sebagai bagian dari adaptasi bisnis.
Baca Juga: Menjemput Nostalgia di Kedai Kopi Surya Djaja: Sentuhan Pecinan Klasik di Jantung Kota Blitar
“Buka saat puasa itu tantangan mental bagi pemilik kedai. Omzet memang terjun bebas saat siang, tapi ini soal menjaga eksistensi,” ungkapnya memberikan semangat.
Kondisi sepi pengunjung di siang hari ini justru dimanfaatkan oleh sebagian barisita untuk lebih teliti dalam melakukan quality control pada biji kopi mereka.
Tidak adanya antrean pesanan membuat mereka bisa lebih fokus bereksperimen guna menyambut lonjakan pengunjung yang biasanya membludak sesaat setelah salat tarawih selesai.
Bagi para penikmat kopi, kedai yang tetap buka di siang hari memberikan ruang bagi mereka yang sekadar ingin membeli biji kopi (beans) untuk stok di rumah atau mereka yang sedang tidak menjalankan ibadah puasa.
Meski kursi-kursi di dalam kedai masih “berpuasa” dari pengunjung, namun semangat untuk terus menyajikan secangkir kafein tetap terjaga hingga saatnya tiba bagi warga kota untuk kembali bersulang di bawah rembulan. (Fis/Serayu)
























