Dibalik Tradisi Menggembala Bebek: Cara Alami Petani Jaga Kesuburan Ekosistem Sawah

Blitar, serayunusantara.com – Aktivitas menggiring bebek ke area persawahan masih menjadi pemandangan ikonik yang menghiasi sudut-sudut pedesaan di Blitar. Di balik kesederhanaannya, tradisi yang akrab disebut “angon” ini memegang peranan penting dalam menjaga ekosistem pertanian lokal secara berkelanjutan.

Dalam pantauan pada Selasa (17/2/2026), rombongan bebek tampak berbaris tertib menyusuri jalan desa menuju lahan persawahan yang baru saja dipanen. Aktivitas ini bukan sekadar upaya peternak mencari pakan alternatif, melainkan bentuk kerja sama alami yang saling menguntungkan antara peternak dan pemilik lahan.

Suroto, seorang peternak bebek asal Blitar, menjelaskan bahwa melepas bebek ke sawah memiliki manfaat besar sebagai pembasmi hama hayati. Menurutnya, bebek sangat efektif dalam membersihkan sisa-sisa hama yang dapat merusak kualitas tanam pada musim berikutnya.

“Bebek-bebek ini sangat membantu petani karena mereka memakan hama seperti keong mas, wereng, dan serangga kecil lainnya. Jadi, saat lahan akan ditanami lagi, kondisi sawah sudah lebih bersih dari gangguan hama,” ujar Suroto saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).

Selain pengendalian hama, Suroto menambahkan bahwa kehadiran bebek di sawah turut membantu proses pemupukan. Ia menjelaskan bahwa kotoran bebek yang tersebar secara merata merupakan nutrisi tambahan bagi lahan pertanian.

“Kotoran yang ditinggalkan bebek itu jadi pupuk organik alami yang bagus sekali untuk kesuburan tanah. Apalagi saat mereka jalan mencari makan, kaki-kakinya secara tidak langsung membantu membalikkan lumpur sawah, jadi tanahnya lebih gembur dan siap ditanami kembali,” tambah Suroto. (Fin/Fis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *