Guncang Bumi Bung Karno! Lapak Baca Ceria Serukan Spirit Tan Malaka, Sebut Gerakan Mahasiswa Blitar ‘Absen’ Kelola Rakyat

Blitar, serayunusantara.com — Aroma kafein di Kedai Kopi Satu Rasa berubah menjadi napas perlawanan intelektual saat Lapak Baca Ceria menggelar diskusi “Negara dalam Pandangan Sosialis”, Rabu (25/02/2026) malam.

Di tengah kepulan asap rokok dan tumpukan buku, koordinator komunitas ini melempar kritik pedas terhadap mandulnya gerakan mahasiswa di Blitar yang dinilai kian berjarak dengan realitas massa.

Koordinator Lapak Baca Ceria, Reyda Hafis, yang malam itu tampak menggenggam karya legendaris Tan Malaka, menegaskan bahwa diskusi di warung kopi bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Baginya, warkop adalah “laboratorium revolusi” yang seharusnya menjadi titik awal pengorganisiran massa yang lebih luas.

“Mengapa di warung kopi? Karena di sinilah rakyat jelata bicara. Kami harus berani jujur bahwa hari ini gerakan mahasiswa di Blitar telah lama absen dalam mengorganisir massa secara konkret. Mereka terlalu asyik dengan birokrasi dan seremonial, hingga lupa cara bicara dengan rakyat di akar rumput,” tegas Reyda Hafis dengan nada tajam.

Diskusi yang dipandu oleh moderator Fufut Shokibul ini menghadirkan Alex Cahyono sebagai pemantik. Alex menekankan bahwa pemahaman terhadap posisi negara secara sosialis adalah modal dasar bagi rakyat agar tidak terus-menerus menjadi korban eksploitasi kebijakan yang timpang.

Baca Juga: Refleksi 77 Tahun Gugurnya Tan Malaka: Lapak Baca Ceria bersama Pegiat Literasi Blitar Bedah Pemikiran Sang Bapak Republik

Ketajaman argumen yang dilemparkan membuat suasana diskusi memanas hingga melampaui tengah malam. Zaki, salah satu peserta, mengakui bahwa narasi yang dibawa Lapak Baca Ceria adalah tamparan bagi aktivis kampus yang mulai kehilangan taji.

“Malam ini kami diingatkan bahwa negara bukan sekadar gedung pemerintahan, tapi medan tempur kepentingan. Penegasan Mas Alex dan semangat Tan Malaka yang dibawa Reyda menyadarkan kami bahwa mahasiswa harus kembali ke pasar, ke warkop, dan ke jalanan untuk mendampingi massa,” cetus Zaki.

Pertemuan yang berakhir hingga pukul 00.15 WIB ini tidak hanya menyisakan cangkir-cangkir kosong, tetapi juga sebuah manifesto tersirat: bahwa literasi adalah senjata yang masih ampuh untuk melawan ketidak adilan.

Lapak Baca Ceria berkomitmen untuk terus membedah pemikiran-pemikiran radikal-revolusioner demi memantik kembali api gerakan yang sempat padam di Bumi Bung Karno. (Fin/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed