Singapura, serayunusantara.com – Harga emas menunjukkan tren stabilitas pada perdagangan jumat (13/3/2026) setelah sempat mengalami tekanan dalam dua hari terakhir.
Saat ini, para pelaku pasar tengah mengamati dengan saksama penguatan dolar AS serta lonjakan harga energi sebagai dampak konflik di Timur Tengah yang telah memasuki pekan kedua.
Logam mulia ini berada di kisaran $5.080 per ons pada pembukaan perdagangan pagi. Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi lebih dari 2% dalam dua sesi perdagangan.
Situasi geopolitik yang memanas, terutama terkait gangguan jalur distribusi di Selat Hormuz, menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika pasar energi dan logam mulia.
Kenaikan harga energi yang signifikan memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Hal ini berdampak pada menurunnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dan sejumlah bank sentral dunia lainnya. Terlebih, data klaim pengangguran di Amerika Serikat yang tetap rendah memperkuat posisi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Baca Juga: Investasi Terkoreksi Tajam: Harga Emas Antam Anjlok Rp55.000 Per Gram di Awal Pekan Maret 2026
Di sisi lain, obligasi pemerintah AS mengalami pelemahan yang mendorong imbal hasil (yield) jangka pendek menyentuh level tertinggi sejak agustus lalu. Kondisi ini membuat pasar memprediksi peluang penurunan suku bunga pada rapat The Fed mendatang menjadi sangat kecil.
Saat ini, pelaku pasar hanya memperkirakan sekitar 70% peluang penurunan suku bunga secara total di sepanjang tahun ini.
Hingga pukul 06.10 waktu singapura, harga emas spot tercatat naik tipis 0,1% ke level $5.081,53 per ons. Sementara itu, komoditas logam lainnya menunjukkan performa beragam; perak terkoreksi 0,3% menjadi $83,61 per ons, platinum mengalami kenaikan, sementara paladium bergerak melemah. (Ko)



















