Blitar, serayunusantara.com – Pelaku UMKM makanan ringan di Kota Blitar mulai menerapkan strategi bertahan di tengah naiknya biaya produksi, salah satunya dengan mengurangi isi produk tanpa menaikkan harga jual.
Langkah ini dilakukan Bayu Prasetyo (39), produsen kerupuk matang asal Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sannawetan. Ia memilih menjaga harga tetap stabil demi mempertahankan pelanggan, meski harus menyesuaikan jumlah isi dalam setiap kemasan.
Menurut Bayu, kondisi pasar pasca Lebaran masih cenderung lesu. Ia menilai kenaikan harga berisiko membuat konsumen beralih atau bahkan berhenti membeli produknya.
“Kalau harga dinaikkan, pelanggan biasanya langsung mundur. Jadi solusinya isi yang dikurangi,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Penyesuaian tersebut terlihat pada produknya. Kemasan seharga Rp2.500 yang sebelumnya berisi 10 kerupuk kini menjadi 8 biji, sementara kemasan Rp5.000 berkurang dari 20 menjadi 15 biji.
Di sisi lain, biaya produksi justru mengalami kenaikan signifikan. Harga plastik kemasan melonjak hingga dua kali lipat, sementara minyak goreng curah kini berada di kisaran Rp22.000 per kilogram.
Kondisi ini membuat margin keuntungan semakin menipis. Bayu mengaku, saat ini fokus utamanya bukan lagi mengejar profit besar, melainkan menjaga usaha tetap berjalan dan karyawan tetap memiliki pekerjaan.
“Yang penting masih bisa produksi dan karyawan tetap kerja,” ungkapnya.
Selain mengurangi isi produk, Bayu juga menekan volume produksi harian. Jika sebelumnya mampu menggoreng hingga 1,5 kuintal per hari, kini jumlahnya menurun seiring turunnya permintaan pasar.
“Yang penting usaha tidak sampai berhenti,” pungkasnya. (San)



















