Harmoni Sastra dan Nada: Musisi Andi Sahaja Buka Diskusi “Kenang-Kenanglah Pram” dengan Syahdu

Blitar, serayunusantara.com — Ada yang berbeda dalam pembukaan agenda diskusi literasi “Kenang-Kenanglah Pram” di Kopi Kalpas malam tadi. Suasana diskusi yang biasanya kaku, seketika mencair saat Andi Sahaja, musisi lokal kebanggaan Blitar, tampil membuka acara.

Dengan petikan instrumen yang khas, musisi yang telah menelurkan tujuh single lagu ini berhasil membawa audiens masuk ke dalam semesta pemikiran Pramoedya Ananta Toer melalui alunan nada, Jumat (13/02/2026).

Andi Sahaja, yang dikenal konsisten berkarya di jalur independen Blitar, menyuguhkan performa yang intim sebelum sesi bedah buku dimulai. Sebagai seniman yang produktif, kehadiran Andi menjadi bukti nyata bahwa semangat literasi bisa dikemas secara kreatif melalui musik.

Penampilannya malam itu seolah menjadi jembatan emosional bagi puluhan peserta laki-laki yang hadir untuk lebih khidmat menyelami karya Bukan Pasar Malam dan Gulat di Jakarta.

Rama (24), yang duduk di barisan depan, mengaku sangat terkesan dengan pembukaan tersebut.

Baca Juga: Kajón, Kotak Kayu Bersuara Dunia: Alat Musik Akustik Minimalis yang Kian Digemari Musisi Blitar

“Mas Andi ini luar biasa, meskipun sudah punya tujuh lagu sendiri, dia tetap rendah hati mendukung acara komunitas seperti ini. Musik dan buku itu pasangan yang pas untuk merangsang ide-ide kreatif muncul,” ungkapnya.

Andi Sahaja menyampaikan bahwa keterlibatannya dalam acara yang diinisiasi Tualang Buku dan Lapak Baca Ceria ini adalah bentuk apresiasi sesama pekerja seni. Menurutnya, lirik-lirik dalam lagu yang ia ciptakan sedikit banyak juga terinspirasi dari kedalaman narasi sastra.

Hal ini pulalah yang membuat penampilannya terasa sangat menyatu dengan tema perayaan pemikiran sang maestro, Pramoedya Ananta Toer. Kehadiran musisi dengan rekam jejak tujuh single di panggung literasi lokal ini memberikan warna baru bagi ekosistem kreatif di Kota Blitar.

Andi Sahaja tidak hanya sekadar menghibur, tetapi juga membuktikan bahwa seniman lokal memiliki peran krusial dalam menjaga nyala api literasi agar tetap relevan dan menarik bagi generasi muda. (Fis/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed