Kawasan Hulu Selatan Blitar Kian Terbuka, Warga Ingat Banjir 2004, Perhutani Dinilai Abai

Blitar, serayunusantara.com – Meningkatnya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir kembali memicu kecemasan warga Blitar Selatan. Kekhawatiran itu muncul lantaran kawasan hulu yang sebelumnya berupa hutan kini semakin terbuka dan beralih fungsi menjadi lahan tebu. Warga menilai kondisi tersebut memperbesar risiko banjir sewaktu-waktu.

Ingatan warga pun kembali pada banjir besar tahun 2004 yang memorak-porandakan sejumlah kecamatan di wilayah selatan. Mereka menilai pola kerusakan lingkungan di hulu saat ini mengarah pada risiko serupa.

“Dulu itu hutan, sekarang jadi tebu. Hujan sedikit lama saja sudah langsung ada luapan dari atas,” ujar seorang warga Kecamatan Kademangan di sebuah warung kopi, Sabtu (6/12/2025).

Junaidi, saksi banjir 2004, mengaku masih ingat bagaimana air bah datang secara tiba-tiba seperti dinding besar yang menghantam permukiman. Ia menilai pembukaan hulu secara masif menjadi alarm bahaya bagi warga.

“Air waktu itu datang seperti tembok. Kalau hulu terus dibuka seperti ini, jangan salahkan cuaca kalau banjir terulang,” ucapnya.

Baca Juga: Banjir Rendam Jalur Alastua–Semarang Tawang, KAI Daop 7 Madiun Beri Refund 100 Persen untuk Penumpang Terdampak

Di tengah kecemasan tersebut, muncul pula dugaan adanya oknum Perhutani Blitar yang terlibat dalam pembukaan kawasan hutan menjadi area perkebunan tebu. Warga menyebut proses perubahan lahan terjadi cepat, masif, dan diduga minim pengawasan ketat.

Situasi itu membuat tuntutan warga semakin keras. Mereka meminta pemerintah daerah dan Perhutani menghentikan perluasan lahan tebu di kawasan hulu, mengaudit seluruh izin pemanfaatan kawasan hutan, serta mengusut dugaan keterlibatan oknum.

“Keselamatan warga jangan dikorbankan. Jangan nanti saat banjir semua saling lempar. Tanggung jawab itu harus jelas,” tegas seorang warga lainnya.

Sampai berita ini tayang, Perhutani Blitar belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang disampaikan melalui WhatsApp kepada bagian humas. (Jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *