Teheran, serayunusantara.com – Di tengah guncangan hebat akibat kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sejumlah aktor internasional dan kelompok bersenjata regional secara terbuka menyatakan pembelaan dan solidaritas mereka terhadap Republik Islam Iran.
Dukungan ini datang dalam berbagai bentuk, mulai dari kecaman diplomatik keras oleh negara-negara besar hingga ancaman eskalasi militer oleh kelompok proksi yang dikenal sebagai Axis of Resistance (Poros Perlawanan).
Dukungan Diplomatik dan Strategis: Rusia dan China tetap menjadi sekutu utama Iran di panggung global, dengan kedua negara menolak mengakui keabsahan sanksi “snapback” PBB yang dipicu oleh negara-negara Eropa.
Baca Juga: Menelusuri Akar Permusuhan AS-Iran: Dari Kudeta 1953 hingga Puncak Eskalasi 2026
Rusia: Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel sebagai “tindakan agresi bersenjata yang direncanakan dan tidak beralasan” yang berisiko memicu bencana kemanusiaan dan ekonomi.
Moskow juga dilaporkan telah menyetujui kesepakatan senjata rahasia senilai €500 juta untuk membantu Iran membangun kembali sistem pertahanan udaranya yang rusak.
China: Beijing menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak agar kedaulatan Iran dihormati serta menyerukan penghentian segera permusuhan guna memulai kembali dialog. China juga terus menjadi pembeli utama ekspor minyak Iran meskipun di bawah tekanan sanksi AS.
Mobilisasi Militer: “Axis of Resistance” Kelompok-kelompok proksi Iran di seluruh Timur Tengah melihat kematian Khamenei sebagai pelanggaran terhadap “garis merah” yang mengharuskan pembalasan militer.
Hezbollah (Lebanon): Kelompok ini mengutuk serangan tersebut dan menyatakan keyakinannya bahwa musuh akan menerima “tamparan keras” atas agresi kriminal mereka.
Baca Juga: Krisis Kepemimpinan Teheran dan Blokade Global: Iran di Ambang Keruntuhan Pasca Kematian Khamenei
Analisis intelijen menunjukkan bahwa Hezbollah kemungkinan besar akan melakukan intervensi penuh karena AS-Israel secara eksplisit menargetkan keruntuhan rezim Teheran.
Houthi (Yaman): Menanggapi serangan terhadap Iran, kelompok Houthi mengumumkan dimulainya kembali serangan rudal dan drone terhadap kapal-kapal berbendera AS dan Israel di Laut Merah.
Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan bahwa serangan balasan Iran adalah hak yang sah..
Perlawanan Islam di Irak: Kelompok seperti Kataib Hezbollah dan Harakat Hezbollah al-Nujaba telah mengumumkan kesiapan mereka untuk menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di wilayah tersebut sebagai respons atas “amuk” AS-Israel.
Sekitar 5.000 pejuang milisi Irak dilaporkan telah menyeberang ke Iran untuk membantu memperkuat pertahanan rezim.
Kecaman dari Negara-Negara Lain Sejumlah negara lain juga menyuarakan penentangan terhadap operasi militer pimpinan Donald Trump:
Pakistan: Mengecam serangan yang dianggap tidak beralasan tersebut dan mendesak penghentian segera eskalasi.
Kuba dan Venezuela: Kedua negara Amerika Latin ini menyebut serangan AS-Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap piagam PBB dan hukum internasional yang merusak upaya perdamaian nuklir.
Hamas: Mengeluarkan pernyataan yang menyerukan persatuan umat Muslim dan menegaskan kembali solidaritas mereka yang tak tergoyahkan kepada Iran.
Meskipun Iran kehilangan banyak pimpinan militernya, dukungan dari jaringan proksi dan perlindungan diplomatik dari kekuatan besar seperti Rusia dan China menunjukkan bahwa Republik Islam belum sepenuhnya terisolasi dalam menghadapi konfrontasi langsung dengan blok Barat. (Ha)





















