Blitar, serayunusantara.com – Bagi sebagian orang tua, handphone sering menjadi penolong cepat ketika anak mulai rewel. Seorang ibu muda berkata, “Kadang kalau saya lagi sibuk masak, kasih HP sebentar itu bikin dia tenang.” Dari sudut pandang masyarakat, gawai dianggap solusi praktis di tengah aktivitas rumah tangga yang padat.
Namun beberapa warga juga menyadari dampak kurang baik yang muncul. Seorang ayah berpendapat, “Anak saya jadi jarang lari-larian, lebih suka duduk nonton.”
Menurutnya, kebiasaan ini membuat anak kurang aktif dan perkembangan motoriknya tidak sebaik dulu.
Ada pula kekhawatiran soal tidur anak. Banyak orang tua melihat si kecil sulit terlelap setelah menatap layar terlalu lama. Seorang nenek mengatakan, “Kalau sebelum tidur masih pegang HP, pasti tidurnya gelisah.” Cahaya layar membuat anak sulit benar-benar beristirahat.
Baca Juga: Berburu Fashion Murah dan Unik: Blitar Thrift Festival Ramaikan Gedung Aryo Selama Sepekan
Dari sisi emosi, beberapa masyarakat menilai anak jadi mudah marah ketika handphone diambil. “Kalau lagi asyik nonton terus saya matikan, langsung tantrum,” cerita seorang ibu rumah tangga. Hal ini menunjukkan anak bisa ketergantungan pada stimulasi cepat dari layar.
Meski begitu, ada juga sisi yang dianggap bermanfaat. Seorang guru PAUD berkata, “Kalau kontennya dipilihkan yang edukatif, anak cepat tangkap warna dan bentuk.” Namun ia menekankan bahwa pendampingan tetap penting agar anak tidak sekadar terpaku pada hiburan.
Pada akhirnya, masyarakat sepakat bahwa gawai bukan musuh, tetapi perlu diatur penggunaannya. Orang tua melihat batas waktu dan pengawasan sebagai kunci agar handphone jadi alat bantu, bukan pengganti perhatian. Dengan cara itu, anak tetap bisa berkembang sehat tanpa kehilangan momen bermain alami. (Ke/ha)







