Konflik AS-Iran Memanas, Trump Umumkan Rencana Blokade Selat Hormuz

Jakarta, serayunusantara.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan rencana pemblokiran Selat Hormuz menyusul gagalnya perundingan damai yang berlangsung di Pakistan.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut Angkatan Laut AS akan melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut. Kebijakan ini dinilai berpotensi memperburuk situasi geopolitik sekaligus mengguncang stabilitas ekonomi global.

Baca Juga: Singapura Tegas Tolak Tarif Selat Hormuz, Indonesia Didorong Perkuat Strategi Maritim

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyampaikan bahwa operasi tersebut mulai diberlakukan, meski implementasinya disebut tidak sepenuhnya seperti pernyataan awal. Kapal yang tidak menuju pelabuhan Iran dilaporkan masih diperbolehkan melintas.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan ini. Gangguan di wilayah tersebut diperkirakan dapat memicu lonjakan harga energi secara signifikan.

Trump menyatakan langkah tersebut sebagai upaya menghentikan dugaan praktik tekanan ekonomi oleh Iran. Ia juga membuka kemungkinan penerapan blokade penuh jika tuntutan AS tidak dipenuhi, termasuk ancaman terhadap kapal yang diduga melakukan transaksi dengan Iran.

Baca Juga: D-8 Dorong Mediasi Konflik Iran, Indonesia Pastikan Kepemimpinan 2026 Tetap Berjalan

Selain itu, AS juga mempertimbangkan kebijakan tarif tinggi terhadap negara-negara yang dinilai mendukung Iran. Dalam waktu dekat, Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China di tengah meningkatnya tensi global.

Sementara itu, Iran merespons keras kebijakan tersebut dan menilai kehadiran militer AS di sekitar Selat Hormuz berpotensi melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pihak Iran juga menyoroti dampak kebijakan tersebut terhadap lonjakan harga energi dunia.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Ancaman Kenaikan Harga Energi Bayangi Ekonomi Indonesia

Upaya diplomasi yang melibatkan kedua pihak sebelumnya dilaporkan belum mencapai titik temu. Iran tetap mempertahankan sejumlah tuntutan, termasuk terkait kendali wilayah dan aset yang dibekukan.

Situasi ini turut berdampak pada pasar global, di mana harga minyak dunia sempat melonjak hingga menembus angka di atas 100 dolar AS per barel, memicu ketidakstabilan di pasar keuangan internasional. (San)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *