Surabaya, serayunusantara.com – Eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Timur Tengah kini tidak hanya dipandang sebagai persoalan geopolitik dan ekonomi semata.
Ketegangan di wilayah yang menjadi jantung energi dunia tersebut mulai menunjukkan dampak serius terhadap upaya global dalam mengatasi krisis iklim dan percepatan transisi energi hijau.
Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), Selat Hormuz memegang peranan krusial dengan volume perdagangan mencapai 20 juta barel minyak per hari pada tahun 2025.
Angka ini mewakili sekitar 25% dari total perdagangan minyak melalui jalur laut di seluruh dunia. Gangguan pada jalur strategis ini diprediksi akan menekan pasar energi global secara signifikan.
Masalah utama dari sisi iklim adalah potensi melambatnya transisi menuju energi bersih. Saat pasokan terganggu, banyak negara cenderung memprioritaskan keamanan energi jangka pendek dengan kembali bergantung pada bahan bakar fosil.
Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa harga minyak telah mengalami kenaikan sekitar 5% pada 5 Maret 2026. Dalam skenario konflik yang lebih berat, harga minyak dunia diperkirakan dapat menembus angka US$100 per barel.
Kondisi ini dikhawatirkan akan menunda investasi pada sektor energi terbarukan, meskipun International Renewable Energy Agency (IRENA) mencatat kapasitas energi terbarukan global telah mencapai 4.448 GW pada tahun 2024.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa setiap konflik bersenjata membawa beban tambahan bagi bumi. Selain kerusakan ekosistem secara langsung, ketergantungan pada minyak dan gas di tengah konflik membuat sistem energi dunia, termasuk Indonesia, menjadi sangat rentan.
Di dalam negeri, sejumlah lembaga mulai memberikan peringatan serius. Mengutip laporan ANTARA, lembaga Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai bahwa gejolak ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Senada dengan hal tersebut, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menekankan bahwa gangguan pasokan minyak dapat memicu inflasi dan tekanan ekonomi yang mengharuskan adanya reformasi energi yang lebih berkelanjutan.
Konflik Iran-AS-Israel ini menjadi pengingat bahwa selama dunia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, setiap guncangan di kawasan strategis akan berisiko menaikkan emisi dan merusak lingkungan.
Oleh karena itu, penguatan energi terbarukan bukan lagi sekadar solusi lingkungan, melainkan bagian dari strategi keamanan nasional untuk membangun sistem energi yang lebih stabil dan tahan terhadap guncangan global. (Ko/serayu)
























