Krisis Kepemimpinan Teheran dan Blokade Global: Iran di Ambang Keruntuhan Pasca Kematian Khamenei

Teheran, serayunusantara.com Republik Islam Iran kini berada dalam kondisi ketidakpastian politik dan militer yang ekstrem setelah dikonfirmasikannya kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara di kediamannya di Teheran pada 28 Februari 2026.

Menanggapi kevakuman kekuasaan tertinggi, Teheran secara resmi mengaktifkan Dewan Kepemimpinan Sementara berdasarkan Pasal 111 Konstitusi Iran. Dewan ini terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam Hossein Mohseni Ejei, dan perwakilan dari Dewan Garda.

Sementara itu, status Mojtaba Khamenei, putra sekaligus calon penerus kuat Khamenei, masih belum diketahui setelah ia juga menjadi target dalam kampanye dekapitasi tersebut.

Pemerintah Iran dilaporkan mulai melakukan pembersihan internal besar-besaran untuk mencari “penyusup” yang dicurigai membocorkan informasi intelijen terkait lokasi pertemuan para pejabat tinggi.

Dampak ekonomi yang paling menghancurkan adalah blokade total terhadap Selat Hormuz oleh angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Baca Juga: Eskalasi Militer AS-Israel dan Iran: Operasi Epic Fury Berujung pada Kematian Ali Khamenei

Melalui siaran radio VHF, Iran memperingatkan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melintas” karena situasi keamanan yang tidak stabil. Akibatnya:

Arus Perdagangan Terhenti: Raksasa pelayaran seperti Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd telah menghentikan transit melalui selat tersebut dan mengalihkan kapal-kapal mereka mengitari Tanjung Harapan.

Harga Minyak Melonjak: Harga minyak mentah Brent melonjak 3% seketika, dengan kekhawatiran analis bahwa harga bisa menembus angka $120 hingga $200 per barel jika blokade berlangsung lama. Sekitar 20% pasokan minyak dunia seborne dan gas alam cair (LNG) dari Qatar kini terperangkap di dalam Teluk.

Sebagai bagian dari “Operation True Promise 4”, Iran meluncurkan setidaknya 137 rudal dan 209 drone yang menargetkan Israel serta negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang menampung pangkalan militer AS.

Hub Penerbangan Lumpuh: Bandara internasional di Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Kuwait terpaksa ditutup akibat serangan rudal, melumpuhkan jalur transit utama antara Barat dan Asia.

Baca Juga: Eskalasi Militer AS-Israel dan Iran: Operasi Epic Fury Berujung pada Kematian Ali Khamenei

Kerusakan Infrastruktur Sipil: Laporan mengonfirmasi kerusakan properti di dekat Palm Jumeirah dan Burj Al Arab di Dubai akibat jatuhnya serpihan rudal hasil intersepsi.

Kondisi Domestik: Perayaan di Tengah Represi Brutal Di dalam negeri Iran, berita kematian Khamenei memicu reaksi kontradiktif. Meskipun pemerintah mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari, laporan media dan rekaman video menunjukkan warga Iran di beberapa kota turun ke jalan untuk merayakan serangan tersebut dan menyalakan kembang api, berharap akan jatuhnya rezim.

Namun, perayaan ini direspons dengan kekerasan oleh pasukan keamanan; rekaman menunjukkan aparat melepaskan tembakan ke arah kerumunan warga. Pemadaman internet total terus berlanjut dengan tingkat konektivitas hanya sebesar 4% dari level normal untuk mencegah koordinasi pemberontakan lebih lanjut.

Pernyataan Internasional Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tujuan operasi ini adalah untuk menghancurkan industri rudal Iran dan mengakhiri ancaman nuklir secara permanen.

Sementara itu, Sekjen PBB mengecam penggunaan kekuatan militer yang dianggap merusak stabilitas keamanan internasional dan hukum internasional. (ha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *