Ledakan Dahsyat SPBE Cimuning Bekasi Lukai 22 Orang, Puluhan Bangunan Hangus dalam Radius 2.000 Meter Persegi

Bekasi, serayunusantara.com — Ledakan dahsyat mengguncang Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) milik PT Indogas Andalan Kita, mitra PT Pertamina Patra Niaga, di Jalan Cinyosog, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, pada Rabu (1/4/2026) malam.

Insiden yang menyebabkan 22 orang mengalami luka bakar dan menghancurkan 22 bangunan ini masih mendominasi pemberitaan hingga 4–5 April 2026.

Kronologi bermula sekitar pukul 20.00 WIB ketika warga mulai mencium bau gas menyengat yang menyebar seperti kabut di sekitar permukiman RT 02 RW 003. Abdul Muhi, warga sekitar, menceritakan detik-detik mencekam.

“Enggak sampai dua menit langsung meledak. Percikan api langsung menyambar ke jalan,” ujarnya.

Baca Juga: Legislator DPRD Jatim: Pemprov dan Pemkot Siap Penuhi Kebutuhan Korban Kebakaran Jemur Wonosari

Warga lain, Mardi (30), menambahkan kesaksiannya. “Tahu-tahu gas di luar udah penuh sama gas, nggak lama terus langsung meledak,” katanya. Api langsung menyambar SPBE dan menjalar ke permukiman warga dengan kobaran mencapai ketinggian tiga meter, membakar jalan, kabel listrik, dan pepohonan.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bekasi menerima laporan pertama pada pukul 21.08 WIB.

Sebanyak 12 hingga 15 unit mobil pemadam dengan sekitar 100 personel dikerahkan. Api baru berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 03.45 WIB setelah sekitar enam jam operasi pemadaman.

Plt Kepala Disdamkarmat Kota Bekasi Heryanto menjelaskan dugaan penyebab ledakan. “Karena warga bilang ada bau gas. Jadi pemicunya adalah salah satunya hubungan pendek arus listrik yang menyebabkan ledakan gas,” ujarnya.

Jumlah korban terus bertambah dari hari ke hari. Camat Mustikajaya Maka Nachrowi menyampaikan data terbaru per 4 April 2026.

“Data sementara, ada 47 KK yang terdampak. Total korban yang tercatat ada 22 orang. Alhamdulillah, sampai saat ini tidak ada korban meninggal dunia,” katanya.

Korban terdiri atas empat karyawan SPBE dan belasan warga sekitar. Banyak di antara mereka mengalami luka bakar 60 hingga 70 persen, bahkan beberapa mencapai 90 persen dari luas permukaan tubuh. Setidaknya dua pasien dalam kondisi kritis dan satu pasien dirujuk ke RSCM Jakarta.

Total kerusakan meliputi 22 bangunan yang terdiri dari rumah tinggal, kontrakan, dan tempat usaha, serta satu musala, enam truk SPBE, tujuh sepeda motor, dan empat kios. Sebanyak 47 kepala keluarga atau sekitar 150 jiwa mengungsi ke posko yang didirikan di sekitar lokasi.

Baca Juga: Mendag Mengunjungi SPBE PT Pertamina Patra Trading Padalarang

Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe menyatakan komitmen pemerintah daerah. “Karena ini adalah musibah yang tidak bisa diprakirakan. Insya Allah semua korban itu akan menjadi tanggungan dari Pemerintah Kota Bekasi,” tegasnya.

Pertamina Patra Niaga melalui Area Manager Communications Regional JBB Susanto August Satria menyatakan bertanggung jawab penuh.

“Yang pasti kami sudah berkoordinasi dengan pihak SPBE bahwa penanganan korban akan menjadi tanggung jawab penuh,” ujarnya.

Pertamina juga mendirikan dapur umum untuk 50 KK dan menyiapkan sembako untuk sekitar 400 KK.

DPRD Kota Bekasi langsung menggelar investigasi dan mengkritik tajam penataan ruang yang membolehkan SPBE berdiri hanya 15 hingga 200 meter dari permukiman padat.

Beberapa anggota dewan menyebut lokasi SPBE sebagai “bom waktu” dan membandingkan insiden ini dengan Tragedi Plumpang. Tim Puslabfor Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti ledakan. (Ko/serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *