Blitar, serayunusantara.com — Diskusi panas bertajuk “HAM & Negara: Membedah Daftar Pelanggaran HAM pada Rezim Prabowo” yang digelar Lapak Baca Ceria di Kedai Kopi Satu Rasa, Minggu (01/03/2026), mendapatkan suntikan energi berbeda.
Musisi lokal Andi Sahaja hadir menyemarakkan forum tersebut dengan penampilan akustik yang sarat akan pesan kritik sosial dan kemanusiaan. Kehadiran Andi seolah menjadi penyejuk sekaligus penguat narasi setelah sesi diskusi yang berlangsung sengit sejak pukul 20.30 WIB.
Melalui petikan gitarnya, Andi membawakan deretan lagu yang memotret keresahan rakyat dan ketidakadilan, mengubah suasana kedai menjadi panggung ekspresi yang emosional hingga menjelang tengah malam.
Koordinator Lapak Baca Ceria, Reyda Hafis, mengungkapkan bahwa pelibatan musisi seperti Andi Sahaja adalah bagian dari strategi “budaya perlawanan”. Menurutnya, isu pelanggaran HAM tidak boleh hanya berhenti di menara gading intelektual, tetapi harus mampu dirasakan lewat rasa dan seni.
“Kami sengaja menghadirkan Andi Sahaja karena seni adalah bahasa yang paling jujur untuk bicara soal kemanusiaan. Ketika diskusi teknis soal negara dan HAM terasa berat, lirik-lirik lagu Andi yang berjudul “Akulah Gelap” justru masuk ke relung hati para peserta,” ujar Reyda Hafis.
Baca Juga: Harmoni Sastra dan Nada: Musisi Andi Sahaja Buka Diskusi Kenang-Kenanglah Pram dengan Syahdu
Senada dengan hal tersebut, Fufut Shokhibul selaku simpatisan Lapak Baca Ceria, menilai kehadiran musisi di tengah diskusi aktivisme sangat krusial untuk menjaga stamina mental para penggerak.
“Andi Sahaja bukan sekadar penghibur, dia adalah bagian dari barisan pemikir malam ini. Musiknya memberi ruh pada angka-angka pelanggaran HAM yang kita bedah tadi. Ini membuktikan bahwa gerakan literasi di Blitar tidak kaku; kami punya narasi, kami punya puisi, dan kami punya melodi untuk melawan lupa,” tegas Fufut.
Andi Sahaja sendiri, di sela penampilannya, sempat menyampaikan bahwa musisi tidak boleh buta terhadap realitas politik yang terjadi di negaranya. Baginya, panggung musik adalah mimbar untuk menyuarakan mereka yang suaranya dibungkam oleh otoritas.
Penampilan Andi yang diikuti dengan deklamasi puisi dari para peserta menjadi penutup yang dramatis bagi rangkaian acara malam itu. Kolaborasi antara bedah ideologi dan panggung seni ini menegaskan bahwa Lapak Baca Ceria tetap konsisten menjadi oase bagi nalar kritis dan kreativitas di Kota Blitar. (Fin/Serayu)
























