Blitar, serayunusantara.com — Diskusi literasi yang digelar komunitas Lapak Baca Ceria di Kedai Kopi Satu Rasa, Minggu (01/03/2026) malam, berubah menjadi panggung kritik tajam terhadap kekuasaan.
Mengangkat tema provokatif “HAM & Negara: Membedah Daftar Pelanggaran HAM pada Rezim Prabowo”, forum ini membedah berbagai kebijakan dan rekam jejak yang dinilai mencederai nilai-nilai kemanusiaan di bawah kepemimpinan saat ini.
Diskusi yang dimulai pukul 20.30 WIB ini berlangsung dengan tensi tinggi. Para peserta yang didominasi mahasiswa dan aktivis terlibat dalam perdebatan panas mengenai posisi negara yang sering kali berbenturan dengan hak-hak sipil.
Saking dinamisnya dialektika yang terjadi, sesi bedah materi baru berakhir pada pukul 23.00 WIB, yang kemudian dilanjutkan dengan panggung ekspresi bebas.
Koordinator Lapak Baca Ceria, Reyda Hafis, menegaskan bahwa diskusi ini adalah upaya melawan lupa dan menjaga nalar kritis publik agar tidak terbuai oleh narasi tunggal pemerintah.
“Negara punya kecenderungan untuk menghapus jejak hitamnya sendiri. Malam ini, kami berkumpul untuk memastikan bahwa daftar pelanggaran HAM, baik yang masa lalu maupun yang terjadi di bawah rezim Prabowo hari ini, tetap tercatat dalam ingatan kolektif masyarakat Blitar,” tegas Reyda Hafis saat diwawancarai di sela acara.
Senada dengan Reyda, Fufut Shokhibul selaku simpatisan Lapak Baca Ceria, menilai bahwa forum-forum semacam ini adalah “benteng terakhir” demokrasi di tingkat tapak.
“Diskusi malam ini memang panas karena kita sedang bicara soal nyawa dan keadilan yang sering kali digadaikan demi kepentingan politik. Kehadiran teman-teman di sini membuktikan bahwa anak muda Blitar tidak apatis. Kami menuntut akuntabilitas negara, bukan sekadar janji-janji manis di media sosial,” ungkap Fufut.
Usai sesi diskusi yang menguras energi intelektual, suasana Kedai Kopi Satu Rasa beralih menjadi syahdu namun tetap sarat pesan perlawanan melalui panggung bebas.
Sejumlah peserta tampil mendeklamasikan puisi yang menyuarakan penindasan, disusul dengan penampilan akustik dari Andi Sahaja. Lirik-lirik lagu yang dibawakan Andi seolah menjadi penutup yang menyatukan keresahan para peserta malam itu.
Agenda ini menegaskan kembali posisi Lapak Baca Ceria sebagai ruang alternatif yang konsisten mengawal isu-isu kemanusiaan dan demokrasi di Bumi Bung Karno, meski harus berhadapan dengan isu-isu sensitif kekuasaan. (Fin/Serayu)
























