Blitar, serayunusantara.com — Riuh diskusi di Kedai Kopi Satu Rasa mungkin tak selalu dipadati massa, namun gema dialektika yang lahir dari meja-meja kecil Lapak Baca Ceria tidak pernah padam.
Meski jumlah peserta dalam kajian “Islam & Teologi Pembebasan”, Rabu (04/03/2026) malam tidak membludak, komunitas literasi ini menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang diskusi terbuka bagi publik.
Bagi para penggeraknya, indikator keberhasilan sebuah forum literasi bukan terletak pada penuhnya kursi, melainkan pada tajamnya gagasan yang dipertukarkan.
Lapak Baca Ceria memandang konsistensi sebagai kunci utama dalam membangun ekosistem intelektual di Bumi Bung Karno yang sering kali terjebak dalam arus pragmatisme.
Koordinator Lapak Baca Ceria, Reyda Hafis, mengungkapkan bahwa jumlah peserta yang fluktuatif tidak akan menyurutkan langkah komunitasnya. Baginya, satu atau dua orang yang tercerahkan jauh lebih berharga daripada kerumunan yang pasif.
“Lapak Baca Ceria tidak sedang mengejar angka atau sekadar memburu keramaian. Kami berkomitmen untuk terus mengadakan diskusi terbuka meskipun yang datang hanya segelintir orang. Perubahan besar sering kali dimulai dari lingkaran-lingkaran kecil yang konsisten,” tegas Reyda Hafis.
Reyda menambahkan bahwa di tengah tantangan budaya instan dan minimnya minat pada literasi berat, ruang-ruang alternatif seperti ini harus tetap ada sebagai benteng pertahanan nalar.
Dirinya meyakini bahwa kejujuran dalam berdiskusi adalah modal utama untuk melawan pendangkalan berpikir di tengah masyarakat.
“Kami akan tetap ada, minggu depan, bulan depan, dan seterusnya. Meja kopi ini akan selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin menggugat ketidakadilan atau sekadar mempertanyakan kemapanan. Kami memilih untuk tetap menyalakan lilin kecil daripada mengutuk kegelapan literasi yang melanda hari ini,” tutup Reyda.
Sikap konsisten ini memosisikan Lapak Baca Ceria bukan sekadar sebagai penyelenggara acara, melainkan sebagai simbol perlawanan intelektual yang sunyi namun berakar kuat di Kota Blitar. (Fin/Serayu)
























