Pemkot Blitar Gerak Cepat Atasi 1,87 Hektare Sawah Terserang Penyakit Kresek

Blitar, serayunusantara.com – Pemerintah Kota Blitar melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) segera mengambil langkah penanganan terhadap serangan penyakit kresek yang menyerang tanaman padi di lahan seluas 1,87 hektare. Serangan penyakit yang disebabkan bakteri Xanthomonas campestris tersebut diketahui setelah adanya laporan dari area persawahan di Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo.

Kepala DKPP Kota Blitar, Dewi Masitoh, menyampaikan bahwa setelah menerima laporan dari petani, pihaknya langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan sekaligus memberikan pendampingan. Ia menjelaskan, penyakit kresek berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman padi, menyebabkan daun menguning dan mengering, bahkan meningkatkan risiko gagal panen.

Menurutnya, penyakit ini biasanya muncul pada fase vegetatif maupun generatif, terutama saat tanaman mulai memasuki tahap pengisian bulir. Gejala awal umumnya terlihat dari ujung daun yang mulai berubah warna menjadi kekuningan.

“Begitu laporan dari lahan di Kelurahan Tlumpu kami terima, tim langsung melakukan pengecekan dan penelusuran secara intensif. Dari hasil pemeriksaan, terdapat 1,87 hektare lahan yang terindikasi terserang kresek dan langsung kami tindak lanjuti,” jelasnya.

Baca Juga: Dinkes Kota Blitar Catatkan Nol Kasus DBD di Awal Tahun 2026

Sementara itu, Penyuluh Pertanian DKPP Kota Blitar, Mesianah, menuturkan bahwa serangan penyakit kresek dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti penggunaan pupuk nitrogen (N) yang berlebihan, tingkat kelembapan yang tinggi, serta meningkatnya curah hujan. Oleh karena itu, pengendalian penyakit dilakukan secara terpadu melalui penerapan teknik budidaya yang tepat.

Ia menyarankan petani untuk mengatur sistem pengairan dengan baik agar kelebihan air di lahan dapat dibuang. Selain itu, petani juga dianjurkan menambah unsur hara seperti fosfor (P), kalium (K), sulfur (S), dan unsur mikro, serta memanfaatkan kapur pertanian guna menurunkan tingkat keasaman tanah.

“Penggunaan agen hayati juga kami anjurkan karena lebih ramah lingkungan dan cukup efektif dalam membantu menekan perkembangan penyakit,” ujarnya.

DKPP Kota Blitar pun mengingatkan para petani agar meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah pencegahan sejak dini, sehingga produktivitas tanaman padi tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *