Surabaya, serayunusantara.com – Puluhan aktivis yang tergabung dalam Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat di Surabaya, Senin (9/3/2026).
Aksi ini merupakan bentuk protes keras terhadap eskalasi agresi militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Dalam aksi tersebut, massa membawa tuntutan radikal, di antaranya mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk mendeportasi seluruh warga negara asing (WNA) asal Amerika Serikat yang saat ini berdomisili di wilayah Jawa Timur.
Aksi sempat diwarnai ketegangan saat massa berupaya membacakan pernyataan sikap tepat di depan gerbang gedung Konjen, namun dihalau oleh aparat keamanan. Massa akhirnya memindahkan titik orasi ke seberang jalan untuk melanjutkan agenda mereka.
Wakil Ketua IX Bidang Politik, Kebijakan Publik, dan Ketahanan Regional PKC PMII Jatim, Maulana Rohis Putra, menegaskan bahwa serangan militer yang terjadi saat ini telah melampaui batas-batas kemanusiaan.
“Kami di sini untuk menyampaikan kegelisahan sebagai manusia sekaligus sebagai warga negara yang bisa jadi bakal mengalami hal serupa di masa depan,” ujar Rohis dalam orasinya.
Baca Juga: Wali Kota Surabaya Minta Kasus Ancaman Oknum Jukir Diproses Hukum
Menurut mantan Ketua PMII Lamongan periode 2024-2025 tersebut, peperangan harus dihapuskan karena dampak kerusakannya tidak hanya menyasar fasilitas publik, tetapi juga menghancurkan masa depan warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik geopolitik.
Selain mengecam tindakan militer di Timur Tengah, massa aksi juga menyodorkan sejumlah poin tuntutan yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Timur. Mereka meminta Gubernur secara terbuka mengecam agresi militer AS-Israel sebagai bentuk keberpihakan pada nilai kemanusiaan.
Terkait desakan deportasi, PMII Jatim menilai langkah tersebut merupakan bentuk empati dan solidaritas terhadap ribuan warga sipil yang menjadi korban.
“Kehadiran warga negara dari negara yang melakukan agresi aktif di tanah Jawa Timur menjadi luka bagi rasa kemanusiaan kami. Kami meminta Ibu Gubernur segera mengambil tindakan,” tegas Maulana.
Selain deportasi, mereka juga menuntut Pemprov Jatim untuk meninjau ulang seluruh kerja sama strategis dengan pihak-pihak yang terafiliasi dengan kebijakan militer AS dan Israel.
Baca Juga: Wali Kota Surabaya Minta Kasus Ancaman Oknum Jukir Diproses Hukum
Di tingkat nasional, massa mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk segera mengundurkan diri dari Board of Peace (BoP). Keanggotaan Indonesia dalam lembaga tersebut dinilai mencederai marwah bangsa di tengah situasi agresi yang terus berlanjut.
PMII Jatim mengancam akan menggelar aksi susulan dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan mereka tidak segera mendapatkan respons dari pihak berwenang. Aksi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut berakhir tertib di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian. (Diki/serayu)
























