Blitar, serayunusantara.com — Demokrasi Indonesia di penghujung tahun 2025 berada dalam titik nadir yang mengkhawatirkan.
Aliansi Aktivis Demokrasi Blitar menggelar pernyataan sikap keras menanggapi masifnya rentetan teror, intimidasi, hingga upaya penghilangan paksa keberanian yang menimpa sejumlah tokoh kritis nasional.
Pola serangan yang semakin sistematis ini dinilai sebagai upaya terstruktur untuk mengunci mulut para pejuang kebenaran sebelum memasuki tahun 2026.
Daftar panjang korban intimidasi menunjukkan pola yang tidak main-main. Mulai dari teror bangkai ayam dan pengintaian yang dialami Manajer Kampanye Iklim & Energi Greenpeace Iqbal Damanik.
Tekanan dan bangkai ayam terhadap Dj Donny yang vokal menyuarakan isu-isu sensitif, hingga berbagai bentuk doxing dan ancaman di ruang siber yang menyasar Sherly Annavita.
Serangan ini tidak lagi sekadar gertakan di media sosial, melainkan sudah masuk ke ranah privat, melibatkan perusakan properti, hingga ancaman fisik yang mengintai keselamatan keluarga mereka.
Reyda Hafis, perwakilan Aliansi Aktivis Demokrasi Blitar, memberikan pernyataan yang menukik tajam terkait situasi ini.
Ia mengatakan, negara ini sedang sakit ketika peluru dan teror menjadi jawaban atas argumen.
Apa yang menimpa kawan-kawan kita seperti Iqbal Damanik atau Sherly Annavita bukan sekadar nasib sial individu, melainkan pesan berdarah dari kekuasaan yang ingin rakyatnya buta dan tuli.
“Mereka menggunakan tangan-tangan gelap untuk menghantam siapa saja yang berani berdiri tegak saat yang lain memilih membungkuk,” tegas Reyda dengan nada geram, Jumat (02/01/2026).
Reyda menilai bahwa pembiaran terhadap kasus-kasus teror ini adalah bentuk restu halus terhadap praktik premanisme politik.
Baca Juga: Aliansi Aktivis Demokrasi Blitar Gelar Solidaritas Bencana Banjir Sumatera Usai Diskusi Publik
Menurutnya, jika intelektual sekaliber mereka saja bisa diintimidasi dengan begitu mudah tanpa ada tindakan hukum yang nyata, maka kepada rakyat kecil kemungkinannya akan jauh lebih buruk.
“Jangan sampai republik ini berubah menjadi rimba, di mana kebenaran hanya milik mereka yang memegang senjata dan menguasai algoritma. Kami berdiri bersama para korban, dan kami tidak akan gentar sedikit pun,” tambahnya menohok.
Aliansi menegaskan bahwa rentetan teror ini justru akan memicu gelombang solidaritas yang lebih besar dari berbagai penjuru negeri.
Mereka menuntut pertanggungjawaban negara secara penuh untuk menjamin keselamatan warga yang menggunakan hak bicaranya.
Menurut mereka, suara kritis adalah oksigen bagi demokrasi, dan upaya untuk membungkamnya hanya akan berujung pada ledakan sosial yang lebih dahsyat. (Fin/Serayu)













