Blitar, serayunusantara.com – Memasuki awal tahun 2026, kondisi berbangsa dan bernegara dihadapkan pada berbagai persoalan multidimensi, mulai dari tekanan ekonomi, dinamika politik, persoalan sosial, hingga bencana alam yang datang silih berganti. Situasi tersebut mendorong ribuan kaum Nahdliyin menggelar Istighosah Kubro sebagai ikhtiar batin demi keselamatan bangsa dan negara.
Ribuan jamaah memadati Stadion Supriadi Kota Blitar sejak Sabtu, 24 Januari 2026, pagi hari. Doa bersama dipimpin sembilan kiai sepuh dari Kota dan Kabupaten Blitar yang dikenal sebagai tokoh kharismatik Nahdlatul Ulama. Kegiatan religius ini berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan.
Acara tersebut turut dihadiri Bupati Blitar Rijanto dan Wali Kota Blitar Syauqul Muhibin. Kehadiran kedua kepala daerah ini menjadi simbol sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga stabilitas serta keutuhan bangsa.
Baca Juga: Efisiensi Jadi Alasan Utama, Anggaran Perbaikan Jalan Blitar 2026 Dipangkas Rp23 Miliar
Dalam sambutannya,Wali Kota Blitar Syauqul Muhibin atau yang akrab disapa Mas Ibin mengulas sejarah perjuangan kaum Nahdliyin sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia menegaskan kontribusi NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dalam menjaga dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Dengan spirit hubbul wathan minal iman, NU menempatkan kecintaan pada tanah air sebagai bagian dari iman. Namun, besarnya jamaah NU tidak menjadikan warganya sombong. Soal loyalitas terhadap NKRI, NU tidak perlu diragukan lagi. NKRI harga mati,” tegas Mas Ibin.
Sejumlah kiai sepuh dalam tausiyahnya kembali menegaskan peran strategis NU dalam sejarah bangsa, mulai dari perintisan kemerdekaan, Resolusi Jihad, hingga keterlibatan aktif dalam menjaga kedaulatan negara dari berbagai ancaman ideologi yang pernah mengancam persatuan nasional.
Istighosah ini dihadiri keluarga besar tokoh NU Kota dan Kabupaten Blitar, jajaran Muslimat NU, Fatayat, serta ribuan santriwati. Sejak pukul 07.00 WIB, jamaah telah memenuhi area stadion. Doa bersama dimulai sekitar pukul 08.30 WIB dan dipimpin para kiai khos dari Kota dan Kabupaten Blitar.
Ketua Panitia, H. Hartono, dalam sambutannya menggunakan bahasa khas Mataraman. Ia menegaskan bahwa istighosah tersebut merupakan ikhtiar spiritual sebagai doa tolak balak, khususnya bagi masyarakat Kota dan Kabupaten Blitar serta keselamatan bangsa dan negara.
“Intinya istighosah ini adalah tombo teko loro lungo—obat agar bala dan musibah menjauh,” pungkasnya.
Secara normatif, kegiatan istighosah mencerminkan peran ulama dan umat dalam menjaga harmoni sosial dan spiritual di tengah tantangan zaman. Doa bersama tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas kebangsaan dan meneguhkan nilai persatuan.
Baca Juga: Blitar Diguncang Gempa: Magnitudo 4,7 Getarkan Wilayah Jatim, Warga Diimbau Tetap Tenang
Momentum ini menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada aspek material dan kebijakan, tetapi juga pada kekuatan moral, spiritual, serta kearifan kolektif umat.
NU, dengan tradisi keagamaan yang moderat dan nasionalis, terus meneguhkan posisinya sebagai penjaga keseimbangan antara iman, kebangsaan, dan kemanusiaan. (jun/ha)











