Jakarta, serayunusantara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan terbaru terkait fenomena upwelling di perairan selatan Jawa yang berpotensi meningkatkan produktivitas laut dan hasil tangkapan ikan, terutama saat musim kemarau.
Penelitian ini dilakukan oleh tim Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN yang mengkaji dinamika Arus Pesisir Selatan Jawa atau South Java Coastal Current (SJCC) dalam rentang waktu panjang, yakni 1993 hingga 2023. Kajian tersebut memanfaatkan berbagai data oseanografi dan atmosfer, seperti OSCAR, ERA5, serta indikator iklim global Niño3.4 dan Dipole Mode Index (DMI).
Baca Juga: Polri Bangun Laboratorium Sosial Sains di Akpol Semarang, Perkuat Pemolisian Berbasis Data dan Riset
Hasil penelitian menunjukkan bahwa SJCC memiliki peran penting dalam sistem sirkulasi Samudra Hindia bagian timur, termasuk dalam proses transportasi massa air dan terjadinya upwelling yang memengaruhi kondisi iklim regional.
Peneliti BRIN Yosef Prihanto menjelaskan bahwa arus ini memiliki pola variabilitas yang cukup dinamis dalam skala intramusiman. “Arus permukaan ke arah timur di perairan selatan Jawa terbentuk sepanjang tahun, meskipun intensitasnya berubah setiap bulan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).
Ia menambahkan, fenomena tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh angin muson, tetapi juga oleh interaksi kompleks antara laut dan atmosfer dalam skala besar, termasuk pergerakan gelombang Kelvin ekuatorial.
Temuan lain yang cukup signifikan adalah peran kombinasi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif dan El Niño dalam memperkuat upwelling di wilayah selatan Jawa hingga barat Sumatra.
Baca Juga: Ikan Laut Dinilai Ampuh Tekan Stunting di Blitar Selatan, Didukung Riset Nasional
“Jika sebelumnya upwelling lebih banyak dikaitkan dengan El Niño, riset ini membuktikan bahwa IOD positif dapat semakin memperkuat proses tersebut berdasarkan data jangka panjang,” jelas Yosef.
Penguatan upwelling ini berdampak pada meningkatnya suplai nutrien ke permukaan laut, yang kemudian mendorong pertumbuhan fitoplankton sebagai dasar rantai makanan di ekosistem laut. Kondisi tersebut berimbas langsung pada meningkatnya potensi sumber daya ikan di wilayah perairan tersebut.
Meski demikian, BRIN mengingatkan bahwa peningkatan produktivitas ini tetap perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap dinamika laut yang berpotensi ekstrem.
Baca Juga: Wamen Stella Dukung Riset Interdisipliner dalam Teknologi dan Kesehatan Lansia di Ubaya
Selain itu, penelitian ini juga mengungkap bahwa pengaruh IOD terhadap perubahan arus permukaan di selatan Jawa cenderung lebih dominan dibandingkan fenomena ENSO. Pemahaman ini dinilai penting untuk meningkatkan akurasi prediksi kondisi laut dan iklim di kawasan tersebut.
Hasil riset ini telah diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Oceanologia dan dijadwalkan terbit pada tahun 2026.
Dengan temuan ini, BRIN berharap dapat memperkuat dasar ilmiah dalam pengelolaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan informasi yang lebih akurat bagi nelayan dan pemangku kepentingan dalam menghadapi perubahan iklim global. (San)



















