Rupiah Melemah ke Level Rp17.000 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan Timur Tengah

Jakarta, serayunusantara.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa 7/4/2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuat rupiah melemah hingga menembus level Rp17.000 per dolar AS.

Berdasarkan data pasar, rupiah tercatat turun 29 poin atau sekitar 0,17 persen menjadi Rp17.064 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.035 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik yang melibatkan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Baca Juga: Rupiah Diambang Psikologis Rp 17.000: Badai Devaluasi Asia Paksa Mata Uang Garuda Parkir di Level Terendah

Situasi global yang tidak menentu membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, seperti dolar AS. Hal ini turut mendorong penguatan indeks dolar AS yang naik sekitar 0,15 persen ke level 99,9, sehingga memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi salah satu penyebab melemahnya rupiah. Harga minyak mentah jenis WTI tercatat mencapai 114 dolar AS per barel, sedangkan Brent berada di kisaran 111 dolar AS per barel. Lonjakan ini dipicu oleh gangguan pasokan energi global, terutama akibat ketegangan di jalur strategis Selat Hormuz.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, menilai pergerakan rupiah masih berpotensi tertekan selama ketidakpastian global belum mereda. Ia menyebut investor saat ini cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan dari negara-negara besar.

Baca Juga: Rupiah Terperosok di Awal Pekan: Dekati Level Rp 17.000 Akibat Tekanan Masif Mata Uang Asia Terhadap Dolar AS

Meski demikian, pelaku pasar tetap berharap adanya penurunan tensi konflik dalam waktu dekat. Deeskalasi situasi dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika global memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan ekonomi nasional. Oleh karena itu, stabilitas geopolitik menjadi faktor penting dalam menjaga kekuatan nilai tukar dan kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia. (San)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *