Jakarta, serayunusantara.com – Nilai tukar Rupiah mengawali perdagangan pekan ini dengan rapor merah. Mata uang Garuda gagal mempertahankan performanya dan terpaksa ditutup melemah cukup dalam pada perdagangan Senin (23/3/2026).
Rupiah kini berada di posisi yang cukup kritis, mendekati ambang psikologis baru. Berdasarkan data pasar spot, Rupiah mengakhiri sesi perdagangan di level Rp 16.997 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini menunjukkan depresiasi sebesar 0,41% jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Jumat (20/3) pekan lalu yang masih bertengger di level Rp 16.928.
Pelemahan ini mengindikasikan tingginya tekanan eksternal yang dihadapi mata uang domestik di tengah dominasi the greenback di pasar global.
Kondisi sulit yang dialami Rupiah ternyata mencerminkan tren negatif yang melanda hampir seluruh mata uang di kawasan Asia. Mayoritas mata uang negara tetangga terpantau kompak bertumbangan melawan dolar AS.
Hingga pukul 15.30 WIB, berikut adalah rincian performa mata uang Asia:
* Peso Filipina: Melemah paling tajam sebesar 0,83%.
* Dolar Taiwan: Terkoreksi dalam hingga 0,61%.
* Ringgit Malaysia: Mengalami pelemahan sebesar 0,5%.
* Won Korea Selatan: Terdepresiasi 0,44%.
* Rupee India: Melemah 0,22%.
* Baht Thailand & Yen Jepang: Masing-masing turun tipis 0,18% dan 0,13%.
* Dolar Singapura & Yuan China: Melemah tipis di kisaran 0,04% dan 0,03%.
Di tengah badai pelemahan massal ini, hanya Dolar Hong Kong yang berhasil mencatatkan anomali dengan penguatan tipis sebesar 0,05%, menjadikannya satu-satunya mata uang di Asia yang mampu melawan arus terhadap dolar AS sore ini.
Para analis menilai bahwa pelemahan Rupiah yang nyaris menyentuh level Rp 17.000 ini dipicu oleh sentimen global yang cenderung menghindari risiko (risk-off). Investor tampaknya lebih memilih untuk memegang aset aman (safe haven) dalam bentuk dolar AS seiring dengan dinamika kebijakan ekonomi di Amerika Serikat dan situasi geopolitik dunia.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan dari otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak berdampak lebih jauh terhadap biaya impor dan inflasi domestik dalam beberapa hari ke depan. (Ko/ha)

























